Posted in just write, sketch

DIY Iphone Case with Lettering

 

Happy New Year!

So,who want iphone case with unlimited lettering design but no need to spend much money? The answer is make your own case!

Last year i did some lettering projects for my clients and it got more interesting. And why don’t i make one for myself? So i thought to make iphone case with my lettering artwork. I bought a transparent case and i did this little project..

 

IMG_1141

All you need is transparent case, plain paper ( you can choose 80gr or 120gr, anything ), scissor, pen, cutter and some brush pen or you can use brush and watercolour.

 

IMG_1143

First, trace your iphone case using pen to your paper and cut it with scissor. You can use cutter to make the hole for the camera. I use unused paper to make the main pattern.

 

IMG_1145

IMG_1146

Trace another pattern from the previous one to your plain paper ( i prefer 120gr paper. or you can use watercolour paper ). Cut it with scissor and fit it to your case. If it fit enough, you can start to make the design..

 

IMG_1147

I use Copic sketch marker to write my name on it. You can use any brushpen or pen or brush or anything you like to make your lettering design.

 

IMG_1148

And this is it! My DIY iphone case with lettering. You can write or draw anything. Unlimited design with minimum cost!

 

 

IMG_1404

 

 

 

 

Posted in sketch

Hat On!

Jadi hari ini adalah hari menggambar yeay! Bulan ini adalah bulannya bedrest, niat dari awal bulan sih mau menggambar aja bulan ini daripada nganggur di rumah. Tapi apa daya memang bener kata dokter, namanya bedrest ya ga ngapain selain tiduran. Baru seminggu ini badan enakan, akhirnya hari ini memutuskan untuk mencoba menggambar. Badan udah mulai fit, menggambarpun jadi semangat. Sehari 3 gambar ahahaha

Entah kenapa lg pengen gambar wanita bertopi. Maka jadilah.. Hat On! Put you hat on, girl!

Image
sketch girl hat
Image
sketch girl hat
Image
sketch girl hat
Posted in just write, sketch

Kertas Berwarna Coklat

Berapa bulan lalu aku menengok gudang. Membersihkannya dari tumpukan kertas, debu dan pekerjaan lalu mengubahnya menjadi kamar tidur seadanya. Diantara kertas usang serupa sampah, kutemukan dia. Buku dengan kertas berwarna coklat dengan sedikit bercak. Hasil daur ulang mungkin. Bersampul coklat dengan tali berkepang kecil. Berlembar-lembar halamannya kosong tak bergaris. Aku berpikir, jika kertas ini tak bergaris, maka aku bisa menorehkan garis disana.

Kubawa buku itu dan kubuka sampulnya. Seperti buku sketsaku yg sebelum-sebelumnya, aku selalu mengosongkan lembar pertama. Entah, aku tak pernah merasa siap untuk setiap lembar pertama buku sketsaku. Aku ragu, merasa tak sanggup membuat gambar sebagus itu sebagai prolog goresanku di lembar-lembar berikutnya. Mungkin sesekali aku hanya menuliskan namaku dan tanggal kapan aku mulai menarik pensilku disana. Tulisan kecil di sudut kanan bawah. Selebihnya kosong, bersih dari keraguanku.

Di lembar kedua, aku mulai menggambar. Portrait perempuan ber-make up. Aku sedang suka menggambar wajah. Ada yg menyenangkan saat aku memahami anatomi sepasang mata atau hidung sebelum akhirnya kubuat salinan yg tak jauh lebih bagus di atas kertas. Aku paling menikmati menggambar sepasang mata. Bagiku, sebuah gambar atau foto akan benar-benar terlihat hidup saat sepasang mata didalamnya tergambar dengan sempurna. Hidup sebuah wajah di atas kertas tergantung pada mata. Maka aku selalu berlama-lama menggambar mata, menatapnya lalu berpikir apakah sudah cukup dia membawa hidup untuk goresanku?

 

image

Lembar-lembar berikutnya aku nikmati dengan pensil sketsaku. Ya, aku lebih nyaman menggambar dengan pensil. Hanya goresan-goresan hitam. Tapi kali ini bukan diatas kertas putih, melainkan diatas kertas berwarna coklat.

Gambar-gambar hitam-coklatku sudah beberapa lembar. Dan mungkin berikutnya aku berpikir untuk bermain cat air disana..

Posted in just write, sketch

New interesting activity : Manual Trace

Beberapa minggu terakhir saya tertarik untuk belajar menggambar vektor dengan manual trace alih-alih mengisi waktu menunggu kamera pengganti recesky datang. Daripada otak kanan tak terasah hehhe. Setelah browsing tentang tips dan melihat beberapa referensi, saya mencoba manual trace. Dari beberapa referensi, hasil vektor dengan pen tablet dan photoshop memang lebih wow !. Tapi berhubung saya tak ada pen tablet, saya mencoba manual trace dengan mouse dan corel lalu mulai membuat path mengikuti foto.

Trace pertama, saya mencoba membuat bagaimana vektor yg saya buat bisa terlihat semacam foto aslinya. Paling tidak wajah objek yang saya gambar bisa dikenali. Path yang saya buat masih asal, terlalu banyak nodes dan patahan. Saya juga memilih menggunakan warna monochrome sebelum belajar memilih warna lebih lanjut.

Kemudian saya mencoba menggambar lagi. Saya menyederhanakan path, mengurangi nodes dan mencoba menggunakan warna. Tapi hasil yang saya dapatkan justru terlihat terlalu sederhana, warna yang saya pilih juga masih terbatas dan justru membuat gambar masih terlihat flat.

Kali ketiga saya belajar, saya mencoba menggambar dari foto yang lebih kompleks. Saya belajar membuat path lebih detail dan juga belajar menggunakan warna yang saya ambil dari foto. Setelah gambar selesai, saya mencoba meminta kritik dan saran. Ternyata masih terlalu banyak nodes yang membuat path saya kurang smooth. Pemilihan warna juga masih kurang ‘berani’ sehingga depth objek belum terlihat. Hasilnya, lagi – lagi gambar saya terlihat flat dan tidak ‘hidup’. Bagian mata yang saya buat juga masih kurang tereksplore.

Penasaran, saya kembali mencari objek foto untuk ditrace dan belajar dari kritik sebelumnya. Saya mencoba mengeksplore bagian mata, mengikuti foto lebih detail dan mencoba memilih warna dari foto. Setelah gambar selesai, saya kembali meminta kritik dan saran. Ternyata lagi-lagi saya bermasalah di nodes sehingga path saya kurang smooth. Warna untuk bagian kulit yang berwarna lebih gelap  malah terlalu gelap sehingga terlihat aneh. Bagian rambut dan alis juga tak tereksplore dan terlihat makin flat. Saran dari kritikus adalah kurangi nodes, dan jangan gunakan fill yang berwarna gradasi.

Trace kelima, saya mencoba fokus untuk membuat path yang benar sebelum kembali bermain warna. Setelah saya kembali membaca tips dan trik membuat path, kuncinya adalah “maximize your nodes for smoother path”. Saya mengurangi nodes seminimum mungkin. Saya juga belajar mengeksplore bagian mata lebih detail. Dan hasilnya, memang penggunaan nodes yang lebih efisien bisa menghasilkan path yang lebih smooth.

 Sedikit lebih paham membuat path yang lebih smooth , saya penasaran belajar memilih warna. Kali ini saya lebih detail dan berhati – hati membuat path, yah.. belajar dari kritik dan saran sebelumnya tentang smoother path.

 

Setelah selesai membuat path, saya mulai memilih warna lebih teliti. Beberapa kali gambar harus saya zoom in sekian kali hingga menjadi kotak-kotak piksel. Saya juga mencampur beberapa warna agar saya mendapat warna yang tepat. Bagaimana agar depth masih bisa terasa tetapi warna yang digunakan tidak terlalu gelap atau terang.

 

Setelah gambar selesai, akhirnya saya lebih merasakan bagaimana memilih warna yang lebih enak dilihat untuk membuat depth dan warna skin yang netral.

Yah.. dulu tiap saya melihat vektor saya membayangkan betapa ribetnya manual trace, membuat path satu persatu dengan hanya menggunakan mouse lalu memilih warna yang tentunya tidak mudah. Berulang kali saya berkata pada diri sendiri, “ah sulit.. ga telaten kayanya. males deh mau nyobain”. Tapi rasa penasaran saya lebih besar daripada rasa pesimis saya, dan jadilah saya belajar membuat gambar vektor ahahaha. Dan ternyata ini malah jadi kegiatan baru yang menyenangkan untuk dipelajari 😀

Posted in just a story, sketch

Sampai jumpa ayah !

Dia tak berhenti mengunyah. Ini sudah bungkus kedua coklat yang dia lahap. Matanya memandang keluar kaca, memperhatikan apapun yang berkelebat cepat. Sesekali kepalanya menoleh mengikuti apa yang dilihatnya, sesekali dia akan tersenyum atau terkekeh kecil, menunjuk objek yang menarik perhatiannya dengan telunjuk menempel di kaca jendela. Kepolosan anak kecil berusia 6 tahun itu terlihat kontras dengan ibunya. Disebelahnya, ibunya tampak sembab. Matanya merah, bengkak. Air matanya masih menetes dari kedua matanya yang memandang kosong ke depan, bersandar lemah di pundak sang bibi yang memeluknya sepanjang perjalanan ini. Di depan, pak supir tampak serius mengemudikan mobil majikannya. Mereka melaju dengan kecepatan tinggi siang itu, terburu – buru. Tak sabar bertemu jasad sang ayah di pulau sebelah…

*    *    *

“Mana.. mana suamiku ?!”, sang ibu berteriak histeris. Menyeruak diantara deretan panjang pelayat yang masuk ke ruang tamu rumah mertuanya itu. Mertuanya sudah lama mati. Dan rumah itu menjadi milik adik iparnya. Semalam, suaminya, sang ayah, berpulang menemui Tuhan saat mengunjungi adiknya sepulang berobat ke ‘dokter’ kampung yang katanya manjur. Dia sudah tak percaya dokter. Semua dokter yang didatanginya menyatakan dengan nada keheranan yang sama, “Hasil test Bapak normal, saya tidak tau kenapa Bapak bisa menjadi setengah lumpuh begini. Mungkin ini penyakit ‘kiriman’ pak”

Diagnosa dokter beberapa bulan yang lalu, dia menderita beberapa deretan nama penyakit berat. Setelah berobat ke sana ke mari, dari dokter lokal hinggal dokter di negara tetangga, keadaannya membaik. Kadang, sebulan atau 2 bulan sekali kondisinya akan memburuk dan harus dirawat di rumah sakit beberapa hari.  Dan setiap itu pula istrinya tak rela meluangkan waktu kerjanya demi merawat suaminya. Workaholic. Begitu sosok istrinya, sang Ibu, kata orang – orang. Kini dia terisak hebat di depan jasad suaminya. Sebatas kata menyesal mungkin tak cukup mewakili apa yang dirasakannya.

“Maafkan aku yah.. aku ini cuma istri yang durhaka pada suaminya..”, sang ibu mengulang kalimat itu untuk kesekian kalinya diantara isak tangisnya.

Adik iparnya terisak memeluk sang ibu. Berusaha menenangkan. Tapi bisa apa mereka, sang Ayah sudah berpindah alam semalam, tanpa mengucap salam. Para pelayat menyambut adegan ini dengan sahutan tangis. Tak terhitung berapa banyak air mata mengalir lalu terhapus dari pipi orang orang – orang yang datang. Tak laki – laki, tak perempuan, tak tua, tak muda. Terkecuali si anak lelaki kecil itu. Anak satu – satunya dari sang almarhum ayah dan ibu yang workaholic.

Dia mengamati, dari satu wajah sendu ke wajah sendu yang lain. Dari wajah ayahnya yang membiru dan beku ke wajah ibunya yang memerah dan basah. Pipinya kering, tak seperti puluhan orang di sekitarnya. Raut wajahnya perpaduan antara bingung, ragu dan bertanya – tanya. Dihampirinya salah seorang kakek dan bertanya, “kenapa kakek menangis ?”

Sang kakek menjawab, “Ayahmu meninggal nak.. dia sudah mati. Dia orang baik..”

Anak lelaki terheran, “Lalu kenapa kakek sedih dan menangis ? Bukankah ayah orang baik, dan bukankah orang baik masuk surga yang bagus ?”

Sang kakek terdiam memandang anak lelaki. Anak lelaki itu lalu berjalan meninggalkan sang kakek, menghampiri seorang ibu – ibu dan kembali bertanya, “Kenapa tante menangis ?”

Sang ibu – ibu pelayat menjawab, “Ayahmu meninggal nak.. sudah lama dia sakit dan menderita. Akhirnya dia harus seperti ini..”

Anak lelaki kembali terheran, “Lalu kenapa tante menangis ? Bukankah ayah sekarang sudah tidur nyenyak ? Ayah ga bilang sakit lagi. Itu ayah tidurnya ga merintih sakit kayak biasanya.”

Si ibu – ibu pelayat juga terdiam kali ini. Anak lelaki itu lalu menghampiri ibunya. Dilihatnya ibunya nanar, menangis sesak, duduk bersandar di samping jenazah ayahnya.

“Bu, kenapa ibu menangis ?”, anak lelaki bertanya pada ibunya.

“Ayahmu nak.. dia sudah meninggal. Sama siapa ibu nanti ?”

“Ibu kan masih bisa sama dede. Biasanya juga sama dede, bobonya juga sama dede.”

Sang ibu bertanya kembali, “Tapi ayah ga sama kita lagi de, sampe ibu tua, sampe dede gede.. Ayah udah pergi..”

“Ayah perginya ke mana sih bu ?”, anak lelaki penasaran.

“Ke surga nak. Tempatnya jauh lebih bagus daripada di dunia”, sang ibu menjelaskan perlahan.

“Lalu kenapa ibu sedih ? Kan ayah pergi ke tempat yang lebih bagus. Pasti ayah senang kan ?”, anak lelaki kembali bertanya.

Sang ibu terdiam, sejenak, lalu berkata, “Tapi ayah tidur terus de, ga bangun – bangun lagi. Ga bisa main sama dede”

“Tiap ayah bangun, bilangnya sakit. Trus kalo ayah bobo, ibu bilang jangan ganggu ayah. Trus kenapa sekarang ibu pengen ayah bangun ? Kalo ayah mengigau bilang sakit pas bobo, ibu bingung. Sekarang ayah bobonya ga bilang sakit. Berarti ayah ga sakit lagi kan sekarang ? Kenapa ibu juga bingung ?”, sang anak lelaki kembali memburu ibunya dengan pertanyaan – pertanyaan yang lain.

Sang ibu diam, berpikir seraya bingung memilih pertanyaan. “Dede ga sedih ditinggal ayah ke surga ?”, sang ibu bertanya keheranan, kenapa anak lelakinya berpikir seperti itu.

“Kemaren ayah cerita surga sama dede. Katanya tempatnya baguuuus sekali. Ayah kemarin tanya sama dede, ayah boleh ga pergi ke surga. Tapi dede ga boleh ikut dulu. Dede pengen ikut ayah. Tapi kata ayah, kalo dede mau ikut, dede harus lulus ujian bisa jagain ibu sampe gede. Kata ayah, dede harus jadi orang baik dulu, baru bisa ikut ayah ke surga”

Sang ibu terkesiap, lalu kembali bertanya, “Dede ga bisa main sama ayah lagi loh. Ayah bobo terus sekarang, ga bangun – bangun”

Anak lelaki kembali menjawab, “Kemarin ayah juga bilang gitu, Bu. Dede ga mau. Tapi kata ayah, ayah cape. Ayah ga kuat sama sakitnya. Kalo dede mau ayah sembuh, dede ga boleh sedih kalo ayah bobo terus ga bisa main sama dede. Ayah bobo terus tapi sakitnya sembuh, trus bisa ketemu Tuhan di surga. Gitu kata ayah. Makanya dede ga sedih. Nanti kalo dede udah gede, dede bakal ketemu ayah di surga lagi. Dede udah janji sama ayah ga mau sedih..”

Sang ibu kehabisan kata. Dia bingung hendak bertanya apa lagi. Nyatanya pikiran sederhana anak lelakinya bisa menerima kepergian ayahnya dengan cara yang sederhana. Dia memeluk anak lelakinya, menangis hebat untuk kesekian kalinya.

“Ibu jangan nangis. Kata ayah, menangis itu cuma bikin ayah sakit lagi nanti di surga. Makanya dede udah janji ga mau nangis kalo ayah bobonya lama trus pergi ke surga duluan. Kan ada dede yang nemenin Ibu. Kata ayah, ayah sedih kalo ibu ga nemenin ayah. Sekarang dede ga mau ibu sedih karena dede ga nemenin ibu..”

*    *    *

Sepanjang proses pemakanan, anak lelaki itu memperhatikan dengan seksama. Dan saat tanah diurug ke liang lahat ayahnya, dia melambai dan berkata, “Dede ga nangis, Yah ! Dede ga sedih, dede janji mau nemenin ibu sampe gede, mau jadi orang baik kaya ayah. Biar nanti dede bisa ikut ayah ke surga.. dadah Ayaah.. “

*    *    *

Posted in kata berima, sketch

Metamorfosa kata cinta buat aku dan kamu itu…

seperti secangkir teh panas, selepas dingin dan lelah menyapamu sehari penuh

seperti hujan pertama setelah musim kemarau yg menghapus gerah dan amarah

seperti satu kandela cahaya dalam gelap pekat ruang hampa tanpa sekat, di sebuah tempat tak berpredikat

seperti alunan deretan nada yg menghiburmu dari penat yg mengikat

seperti bantal bulu angsa lembut yg membelaimu dan menawarkan mimpi dalam lelap

metamorfosa kata cinta buat aku dan kamu itu…

seperti saat kata cinta itu sendiri tak cukup mampu mendefinisikan bahasa hati kita

Posted in sketch

Back To Sketch Again

Sebuah masalah bagi saya jika terlalu asik menjalani 1 hobi saya, saya akan sedikit mengesampingkan hobi yg lain bahkan kadang kehilangan sedikit sensenya. Hehehe. Beberapa bulan terakhir saya terlalu asik memotret dan memotret,. Beberapa roll saya lahap di Surabaya dan Jakarta. Kegiatan menulis dan menggambar pun sedikit teracuhkan. Tetapi seminggu yg lalu, salah satu toycam saya kehilangan lensanya. Dan jadilah mood memotret saya hilang seketika. Pusing tak bisa memotret dengan kamera kesayangan lagi, sambil menunggu pengganti yg baru, saya kembali melirik hobi saya yg lain.

Buku sketsa yg lama tak tersentuh saya buka kembali. Beberapa sketsa yg sudah dibuat berapa bulan yg lalu saya scan. Dan saya membuat beberapa sketsa baru lagi. Dan yah.. ini cukup mengobati mood saya yg tak ingin memotret sementara waktu karena kehilangan lensa. Saya terlarut dengan hobi saya yg satu ini lagi. Untungnya sense menggambar sketsa saya kembali lagi. 😀

June’s sketches

2 sketsa ini saya buat bulan Juni. Sketsa berjudul Market ini sebenarnya unfinished sketch. Saat saya ingin melanjutkan kembali, saya kehilangan mood. Jadilah sketsa ini tak terselesaikan dan sekian saja ahahaha 😀

Satu sketsa lagi dari bulan Juni, saya mencoba mempelajari lagi anatomi tangan. Selain menggambar hewan, saya mengalami kesulitan untuk menggambar anatomi tangan. Cukup sulit bagi saya untuk memahami anatomi tangan, terlebih tangan yg sedang bergerak. 😀

September’s sketch

Lama tak menggambar, September saya mencoba membuat satu sketsa. Permintaan sebenarnya. Tapi karena terburu – buru, saya tak merasa maksimal dengan hasilnya.

November’s sketch

Bulan ini, setelah saya kehilangan lensa saya, saya mencoba menggambar lagi. Bukan permintaan kali ini, tapi saya ingin memberi sesuatu pada objek yg saya gambar ini hehhe. Yah memang berbeda hasil gambar yg terburu – buru dan tidak. Hehe

Posted in just write, sketch

A Girl With A Fake Smile

 

Just like this girl, sometimes we need a fake smile..

maybe for some people, showing their emotion is something that really important, whatever they feel and wherever the place. Maybe it’s because they are too sensitive so they cannot hide what they feel or yeah. . they have to show it. If they don’t, they will feel more and more depression.
But for some people, showing what they feel is not as easy as saying something.
I’m not the one who will cry everywhere when i feel so sad after i saw a film or when i got a big problem with my friend or my boyfriend. Yeah, it’s gonna hurt me. But i dont wanna other people around me feel sad too. I dont wanna share my sadness.
So, sometimes. . i’ll be a girl just like this girl. A fake smile that make people think that i’m okay, although i really wanna cry or runaway.
I will try to control my emotion, as best as i can, till i have a time to be alone. Just me, and my time.

It’s not a mistake if someone will show what they feel everwhere, everytime or just want to keep it all for a while. It depend on the people.The extrovert one, maybe they will show it. But the introvert one, maybe thay wanna enjoy their sadness without share to other people.

but for me, share my happines is better than share my sadness, isn’t it ?