Posted in just write

Orang Tua Baru dan Ilmu Parenting

Beberapa th terakhir ini banyak buku parenting terbit. Artikel-artikel, blog, semacam himpunan dan group atau hanya sekedar tips-tips parenting yg di share di facebook. Aku sebagai orang tua muda, yg baru punya 1 anak dan jauh dari orang tua jg pernah merasa gundah. “Aku perlu baca ga ya? Aku siap ga ya jadi orang tua?”. Apalagi Ala udah mulai di fase umur anak2 yg suka bertanya. Mulai memilih, mulai nawar, mulai harus diberi aturan2. Sedangkan yg aku baca, anak-anak jgn terlalu diberi banyak aturan biar mereka bisa bebas bereksplorasi. Aku dan sekian banyak orang tua muda beranak 1 pasti merasakan hal yg sama. Karena ya, jadi orang tua itu ga gampang. Dan kita ga mau salah arah sejak dini bukan?
Tapi seiring berjalannya waktu, seiring banyaknya tips2 ringan sampai artikel lumayan detail yg sudah kubaca tentang parenting ( aku belum sampai beli buku parenting sih ), aku dan suami memutuskan biarlah mengalir saja. Kenapa? Karena terlalu banyak dan pusing ahaha. Nanti kami pasti menemukan ‘style’ kami sendiri. Belajar ga mesti dari buku kan? Ya, kita masih baca-baca seperti yg lain. Tapi kami jg belajar dengan melihat orang tua lain di sekitar kami. Adik, kakak, sepupu bahkan tetangga. Practical! Kami melihat apa yg dilakukan orang tua lain kepada anaknya dan melihat apa yg terjadi pada anaknya kemudian ketika hal itu dilakukan terus-menerus. Lalu kami ambil kesimpulan, bisa diterapkan ga? Bisa kasih hal positif ke anak dan orang tua ga? Caranya udah bener ga? Karena menurut kami parenting itu 2 arah. Ga harus tentang agar anak bisa jadi anak baik, penurut, kuat dll. Tp gimana kami sbg orang tua jg harus bisa sabar, mengendalikan diri, mengajarkan hal baik bahkan menggunakan bahasa yg baik saat marah atau hanya untuk mengingatkan anak.
Too much theories will change yourself. Itu yg kami pikirkan. Terlalu banyak aturan parenting justru akan bikin kita lupa gimana jadi diri kita sendiri yg sesungguhnya. Its ok baca itu semua. Ilmu pasti ada baiknya. Tapi jangan membuat kita jadi terlalu kaku. Ambil yang sesuai dengan kita, yg cocok dengan lingkungan kita, yg cocok dengan kepribadian kita dan anak kita. Jangan terlalu memaksa harus sama persis seperti teori-teori itu, karena yg kemudian terjadi kita akan bingung. Salah-salah bisa jadi mallprakter mendidik anak karena terlalu pusing mau pakai strategi dan teori yg mana, bukan?

Karena anak berbeda-beda. Sekali lagi, anak itu berbeda-beda. Ga semua teori itu bisa diterapkan ke semua anak. Setiap anak punya kepribadian berbeda, cara menangkap hal yg berbeda, cara memahami hal yg berbeda. Jadi gimana bisa tau teori mana yg pas buat anak? Ga ada cara lain selain dengan mencoba..
Aku ambil contoh, banyak parenting tips yg menyarankan tidak memakai kata ‘jangan’ pada anak. Karena bisa membatasi imajinasi anak atau membatasi eksplorasi anak. Prakteknya, aku tetap pake kata jangan. Tapi kemudian tetap memberi Ala apa alasannya. Sebisa mungkin aku menghindari kata ‘pokoknya’. Kata itu seolah ga memberi Ala pilihan dan alasan. Itu yg membatasi eksplorasi. Padahal ada hal2 yg bisa ditoleransi dan ada hal2 yg ga bisa ditoleransi. Misalnya aku tetap mengajarkan Ala untuk punya pilihan seperti mau pake baju yg warna apa? Mau pake sepatu yg mana? Mau makan pake apa? Tapi untuk hal-hal seperti menggigit atau lompat-lompat saat makan, itu ga bisa ditoleransi. Aku akan bilang jangan menggigit! Jangan lompat-lompat waktu makan! Tapi diikuti dengan “lompat-lompat waktu makan itu berbahaya, kalo keselek bisa muntah. Ala duduk ya biar ga muntah”
1 kali, 2 kali, 3 kali kami masih harus ‘jangan-jangan’. Tapi kemudian Ala paham dan ga pernah lompat-lompat saat makan. Begitu seterusnya untuk hal lain seperti mengembalikan sandal ke tempatnya setelah memakai, minum dengan hati-hati tanpa menumpahkan atau menggigit pundak saat digendong. Sekarang Ala sudah terbiasa melakukan semuanya tanpa bunda bilang, “sandalnya jangan ditinggal diluar ya. biar ga hilang” ( sandal jepit anak harganya lebih mahal daripada sandal emaknya, sayang kalo ilang ahahaha )

Semua karena terbiasa. Cape emang mengingatkan hal yg sama terus-menerus. Beberapa akan memilih bodo amat ah, ntar kalo keselek berhenti. Tapi parenting yg baik harus berhasil di kedua arah kan? Anak berhenti lompat2, orang tua berhenti marah2.

Contoh lain, anak tetangga yg beda 6 bulan dengan Ala. Dia akan berteriak mengamuk saat permintaannya tidak dituruti. Ketika diberi alasan dan pengertian, dia akan semakin mengamuk. Aku dan suami memperhatikan kenapa bisa seperti itu? Ternyata orang tua dan orang-orang terdekatnya membiasakan untuk menuruti kemauannya. Alasannya? Biar ga nangis, biar ga ngamuk. Tapi ini seolah jadi bumerang. Semakin dituruti karena males ribet, males ¬†denger si anak teriak-teriak, semakin pendek tingkat kesabaran anak ketika permintaannya tidak dituruti atau sekedar mendapat jawaban “nanti dulu ya sebentar, lagi diambilin”.

Dari ‘ilmu lapangan’ ini, aku belajar gimana menghadapi anak saat meminta sesuatu. Ketika aku bisa memenuhi keinginannya, aku bilang “iya tapi sebentar ya.. Ala sabar dulu. Bunda ambil sebentar”. Aku ingin melihat dan membiasakan bahwa menunggu itu harus sabar. 1kali, 2 kali, Ala akan menangis ketika aku tidak segera mengambil apa yg diminta. Tapi lama-kelamaan dia akan mengerti. Ketika aku bilang, “sebentar ya, sabar bunda ambil dulu”. Ala akan menjawab, “oke. bunda ambil dulu baru abis itu Ala main”. Tanpa anak nangis, tanpa bunda marah-marah. Mudah kan? Hanya butuh kesabaran dan ribet didepan.

Ada lagi ilmu parenting sederhana dari dosen pembimbing tugas akhir dulu. Iya, disela bimbingan tugas akhir dulu, dosenku sering cerita tentang anak-anaknya. Beliau berpesan nanti kalo udah jadi orang tua, biasakan memakai kalimat positif. Karena kata-kata orang tua adalah doa mujarab! Pernah suatu ketika, anaknya berpamitan akan pergi. Beliau berpesan, “helmnya dipake, kalo jatuh nanti kepala yg kena kan bahaya.”. Benar saja, dalam perjalanan pulang anaknya mengalami kecelakaan, dan cidera di bagian kepala. Semenjak itu beliau mengubah semua pesan yg biasa menggunakan kalimat negatif menjadi kalimat positif. Pesan beliau ini menempel erat di kepalaku sampai sekarang. Dan aku berpesan pada suamiku untuk menerapkan di rumah.

Jadi kami mulai mengganti semua kalimat-kalimat seperti :

“jangan lompat-lompat nanti jatuh” menjadi “jangan lompat-lompat biar ga jatuh”

“ayo makan nanti sakit loh” menjadi “ayo makan biar kuat, biar ga sakit”

“jangan tidur malem-malem, besok kesiangan loh” menjadi “jangan tidur malem-malem, biar besok bangun pagi”

Awalnya memang susah. Karena kalimat peringatan seperti ini memang biasanya diakhiri dengan ancaman ahahaha Tapi kemudian kami bisa terbiasa dan baiknya, kami jadi selalu bisa mendoakan yg baik buat Ala. Nilai plus lagi, Ala jadi terbiasa menggunakan kalimat positif seperti ini. Saat dia bermain masak-masakan, dia kemudian akan menyuapi bundanya sambil bilang, “bunda ayo makan biar ga lemes”. Seneng!

Jadi, silahkan membaca buku parenting, tips parenting, ikut arisan parenting, eh salah, group parenting. Ambil semua ilmunya, coba terapkan sesuai kepribadian anak dan orang tua. Kalo ga cocok, coba di-improve. Kalo masih ga cocok, cari cara lain. Jangan terlalu memaksa harus sama persis lalu membuat kita kehilangan kepribadian karena terlalu berusaha menjadi orang lain. Setiap anak dan orang tua berbeda. Dan jangan lupa, lingkungan juga tempat kita belajar. Ambil yang baik dan bisa ditiru, buang yg ga baik dan jangan ditiru. Selamat mencari ‘style’ parenting kalian masing-masing! ūüôā

 

PS : penulis bukan ahli parenting. hanya selalu mencoba dan mencoba jadi orang tua yang baik buat Ala ūüôā

 

Posted in just write, sketch

DIY Iphone Case with Lettering

 

Happy New Year!

So,who want iphone case with unlimited lettering design but no need to spend much money? The answer is make your own case!

Last year i did some lettering projects for my clients and it got more interesting. And why don’t i make one for myself? So i thought to make iphone case with my lettering artwork. I bought a transparent case and i did this little project..

 

IMG_1141

All you need is transparent case, plain paper ( you can choose 80gr or 120gr, anything ), scissor, pen, cutter and some brush pen or you can use brush and watercolour.

 

IMG_1143

First, trace your iphone case using pen to your paper and cut it with scissor. You can use cutter to make the hole for the camera. I use unused paper to make the main pattern.

 

IMG_1145

IMG_1146

Trace another pattern from the previous one to your plain paper ( i prefer 120gr paper. or you can use watercolour paper ). Cut it with scissor and fit it to your case. If it fit enough, you can start to make the design..

 

IMG_1147

I use Copic sketch marker to write my name on it. You can use any brushpen or pen or brush or anything you like to make your lettering design.

 

IMG_1148

And this is it! My DIY iphone case with lettering. You can write or draw anything. Unlimited design with minimum cost!

 

 

IMG_1404

 

 

 

 

Posted in just write

Curhat Ibu Baru ( part 2 ) : Manajemen ASI dan ASIp

Minggu lalu dunia merayakan World Breastfeeding Week, minggu dimana dunia memperingati dan mendukung usaha para ibu yg berjuang menyusui anaknya. Tahun lalu dibulan yg sama, saya sedang berjuang agar saya menjadi salah satu pejuang ASI seperti ibu-ibu menyusui yg lain. Bayi saya baru berumur 1 bulan, saya sedang senang-senangnya menikmati pengalaman sebagai ibu baru dan alhamdulillah Tuhan memurahkan rejeki saya dengan dilancarkannya ASI buat bayi cantik saya..

Beberapa bulan sebelum saya melahirkan, salah satu teman baik memberi saya buku berjudul #ayahASI. Sebuah  buku yg tidak tebal berisi cerita dan tips tentang perjuangan para ayah yg mendukung istrinya untuk terus menyusui bayinya. Setelah membaca buku itu, saya bersama suami berkomitmen untuk sama-sama menjadi pejuang ASI. Perlu diingat, yg punya anak itu berdua. Maka yg harus berjuang untuk menyusui bukan hanya ibunya, tapi juga ayahnya. Bukan dengan memberi ASI juga ( yakali nyusuin jg ) tapi dengan memberi semangat dan mendukung istrinya untuk terus menyusui. Maka kemudian perjuangan untuk menyusui bayi saya pun saya mulai semenjak saya hamil besar..

Menginjak usia kandungan 8 bulan saya sudah rajin melakukan pijat payudara. Tutorialnya bisa dicari youtube, banyak banget kok. Gampang dan ga membutuhkan waktu yg lama. Sampai sehari sebelum saya melahirkan pun saya masih melakukan pijat ini sendiri. Banyak artikel yg saya baca menceritakan ibu-ibu yg walau belum melahirkan pun kolostrum ASI sudah menetes-netes. Saya tidak pernah mengalaminya. Sempat bertanya-tanya apakah akan mempengaruhi produksi ASI nanti? Tapi saya menepis pikiran negatif dan terus yakin bahwa saya pasti bisa menyusui bayi saya.

Dari buku #ayahASI, saya percaya bahwa proses IMD ini berperan penting dalam masa awal proses menyusui. Masalahnya, tidak semua rumah sakit menganut paham ini. Tidak banyak rumah sakit yg tidak melakukan IMD pada ibu dan bayi yg baru lahir. Padahal ini prolog proses menyusui yg penting! Saya dan suami pun berdiskusi untuk memilih rumah sakit yg pro ASI. Alhamdulillah rumah sakit yg saya pilih sangat pro ASI. Sempat saya berpikir jika rumah sakit yg saya pilih tidak pro ASI, saya akan request pada bidan yg membantu persalinan saya untuk melakukan proses IMD setelah saya melahirkan.

Setelah proses melahirkan yg tanpa rasa sakit ( kemarin udah cerita di part 1 ya hehe ), saya dan bayi saya ‘berkenalan’ melalui proses IMD yg sangat emosional. Senang, terharu, takut, cinta, semua rasa itu bahkan membuat saya tak bisa meneteskan air mata. 30 menit lebih dan bayi sayapun menyusu untuk pertama kalinya. Rasanya? Sekali lagi, karena terlalu emosional saya sampai tak bisa meneteskan air mata. Saya hanya bisa tersenyum.

Jam 6 pagi, sekitar 2 jam setelah saya melahirkan dan IMD dilakukan, bidan mengantar bayi saya yg sudah bersih dan wangi, terbungkus bedong. Matanya terpejam dengan sedikit senyuman di bibirnya. Ah anakku.. Cantik sekali.. Bidan mengintruksikan untuk mencoba menyusui bayi saya. Saya pun mencoba dan alhamdulillah ASI saya keluar dengan lancar. Mungkin begitu banyak hormon oksitosin yg keluar saat proses IMD tadi sehingga proses menyusui saya lalui dengan mudah. Ya, hormon oksitosin adalah hormon yg kita butuhkan agar ASI bisa keluar dengan lancar. Lalu bagaimana caranya agar hormon oksitosin berlimpah? BAHAGIALAH. Hormon oksitosin ini sering disebut hormon cinta. Jadi masih ingat bagaimana rasanya jatuh cinta pada suami dulu? Yaa minimal bahagianya kaya begitu deh biar ASI bisa lancar hehe ( tapi kayanya jatuh cinta sama anak lebih mudah ya hihi ). Jadi saya mensugesti diri sendiri untuk selalu bahagia. Suami jg memberi perhatian lebih karena dia tau saya butuh hormon ini lebih banyak agar ASI saya bisa keluar lebih lancar.

Beberapa hari sepulang dari rumah sakit, payudara saya bengkak. Produksi ASI berlimpah tapi bayi saya belum menyusu banyak. Saya sampai menangis dan susah tidur karena sakitnya. Bahkan mengangkat lenganpun saya tak sanggup karena sakit. Saudara saya menyarankan untuk membeli pompa ASI. Akhirnya saya mulai memompa dengan pompa manual. Tapi karena terlalu sakit, saya berhenti. Semakin saya sedih, semakin susah ASI keluar, semakin bengkak payudara. Dan karena bayi masih sensitif, semakin saya sedih dan khawatir, semakin rewel bayi saya. Semua saling berpengaruh. Akhirnya suami membelikan saya pompa elektrik, toh nanti saat saya bekerja saya akan membutuhkannya di kantor. Saya kembali mengompres dan memijat payudara saya setiap hari. Saat siang hari, saya akan menyusui atau memompa setiap 1-1,5 jam sekali. Saat malam hari walau bayi saya tidur masih kenyang, saya tetap bangun untuk memompa tiap 1,5-2 jam sekali. Dan akhirnya beberapa hari kemudian bengkak saya pun mulai sembuh.

Suami saya juga mengontrol pola makan saya. Saya harus makan teratur dengan menu sehat. Bahkan dia sendiri yg memasakkan sayur untuk saya dan membelikan saya stok cemilan. Saat tengah malam saya lapar pun, suami saya akan bangun untuk sekedar menemani saya makan. Ya, saya beruntung saya punya suami yg seorang ayah ASI super hebat!

Rumusnya adalah produksi ASI itu sesuai kebutuhan atau sesuai berapa banyak ASI itu dikeluarkan. Awal pumping, saya membutuhkan 2 hari untuk mengisi 1 botol ASIp 100ml. Karena bayi saya juga masih sedikit minum. Bahkan minggu pertama bayi hanya meminum 1 sendok makan ASI karena lambungnya hanya seukuran kelereng. Jadi ketika bayi menangis, tidak hanya berarti lapar. Bisa karena kegerahan, kedinginan, popok lembab/penuh, ngantuk, lelah, dan masih banyak alasan lain. Banyak ibu yg berpikir nangis = selalu lapar. Sehingga kemudian berpikir ASInya kurang lalu stress. Stress akan mengurangi produksi ASI dan akhirnya akanmenyerah pada sufor. Padahal menangis adalah cara berkomunikasi bayi satu-satunya sehingga bayi menangis tidak selalu berarti lapar.

Perlahan tapi pasti produksi ASI meningkat. Dari sekali pumping hanya 20-30ml menjadi 50ml sekali pumping hingga akhirnya saya bisa mendapat 100ml dalam sekali pumping di bulan berikutnya. Saat masa cuti, dalam 1 hari saya mendapat 1 botol ASIp 100ml.

Oh ya, saya membuat porsi 90-100ml dalam 1 botol/1 kantong ASIp karena pertimbangan kebutuhan minum bayi. Bayi saya akan mulai meminum ASIp saat saya sudah kembali bekerja dan saat itu dia akan sudah berumur 1,5 bulan. Perut bayi sudah lebih besar dan kurang lebih akan meminum 100-120ml dalam sekali minum. Asi yg sudah dihangatkan akan bertahan kurang lebih 5 jam di suhu ruangan. Dengan membagi 100ml untuk setiap porsi botol/kantong, maka saya akan meminimalisir membuang sisa ASIp. ASIp beku yg disimpan di freezer kulkas 2 pintu akan bertahan lebih dari 6 bulan. Untuk freezer kulkas 1 pintu, ASIp akan bertahan 6 bulan. Sedangkan untuk ASIp cair yg tetap dingin ( tidak di dalam freezer ) akan bertahan 5-6 hari.

Hingga akhirnya saat saya harus kembali k Jakarta, saya berhasil membawa 3,5 liter ASIp untuk disimpan di freezer. Saya membawa ice box besar. Mengisinya dengan ASI beku, ice gel beku dan beberapa plastik es batu agar tetap dingin. 4 jam perjalanan ke Yogyakarta dengan mobil dan 45 menit perjalanan k Jakarta dengan pesawat, ASIp selamat sampai di Jakarta. Tapi kemudian drama kecil muncul. ASIp tertata rapi di freezer dan ternyata keesokan harinya kulkas rusak. Beberapa ASIp mulai mencair dan harus diselamatkan. Suami saya langsung membawa semua ASIp ke rumah teman terdekat dan menyimpan disana sementara. Berapa hari kulkas tak kunjung bisa membekukan dan dengan terpaksa kami harus membeli kulkas baru demi 3,5 liter ASIp yg dikumpulkan 1 bulan lebih T_T

Akhirnya masa kembali bekerja dimulai. Masa menyusui masuk di babak baru. ASI yg keluar saat dipompa tidak sebanyak saat langsung menyusui bayi. Awal mulai pumping di kantor, saya memompa 2-2,5 jam sekali. Sama seperti pola minum bayi saya saat itu yg berumur 1,5 bulan.

Malam hari sebelumnya saya akan mengambil 4-5 kantong ASIp beku dan menyimpannya di kulkas bawah. ASIp akan mencair keesokan paginya dan suami saya akan memindahkan ASIp dari kantong ke botol kaca. Setengah jam atau 15 menit sebelum jam minum bayi, 1 botol ASIp cair dikeluarkan dan dimasukkan dalam gelas berisi air panas/hangat. Setelah cukup hangat, ASIp baru dipindahkan ke dalam botol susu. ASIp tak perlu terlalu panas karena ASIp yg baru diperah pun hanya bersuhu 36-37 derajat. Bahkan sebenarnya ASI dengan suhu ruanganpun tidak terlalu dingin buat bayi.

Saat awal kembali bekerja, sebelum berangkat saya menyusui langsung bayi saya hingga kenyang untuk menghemat stok ASIp.  Selama jam kantor, bayi saya akan menghabiskan 400-500ml. Saat malam hari, 2-2,5 jam sekali saya tetap bangun. Jika bayi saya tidak haus maka saya akan memompa. Pola ini berlanjut hingga bayi saya berusia sekitar hampir 3 bulan.

10806263_10205870439102832_5836201178086037351_n

Menuju usia 4 bulan, kebutuhan minum bayi saya bertambah. Selama jam kantor dia akan menghabiskan 600-700ml. Tapi sekali lagi, ASI itu suplly on demand. Produksi ASI saya jg ikut bertambah. Saya bisa membawa pulang 500-600ml dari kantor. Malam hari saya juga masih bangun untuk menyusui atau memompa agar stok ASIp tetap cukup. Ngantuk di kantor? Jangan ditanya ahahaha

Saya juga mencoba mengkonsumsi suplemen semacam kaplet ekstrak daun katuk, teh dari biji-bijian yg baunya seperti jamu, susu kedelai dan khusus ibu menyusui untuk meningkatkan produksi ASI. Stok cemilan di kantor ga pernah habis. Lapar sedikit makan. Dan bisa menghabiskan 2 liter air putih selama di kantor. Suami juga rajin memasak sayuran untuk saya bawa ke kantor. Tapi dari semua usaha itu, saya harus tetap merasa bahagia. Untungnya kerjaan kantor saya adalah hal yg saya sukai : mendesain. Sehingga saya bisa jauh dari kata stress. Karena stress adalah musuh besar ibu menyusui! Stress adalah faktor terbesar yg bisa mengurangi produksi ASI.

IMG_4980

Memasuki masa MPASI, kebutuhan minum bayi sedikit berkurang. Bayi saya akan menghabiskan 500-600ml selama jam kantor. Tetapi produksi saya tidak berkurang sehingga freezer mulai penuh. Akhirnya saat stok ASIp sudah 7,5 liter dan hampir tidak ada tempat untuk menyimpan ASIp, keinginan saya untuk menjadi donor ASIp saya laksanakan. Seorang teman membutuhkan stok ASIp untuk anaknya, dan senangnya saya bisa membantu 1,5 liter ASIp untuk bayinya. Yeay Ala punya saudara sepersusuan!

IMG_1408

Sekarang, 1 tahun 3 minggu setelah pertama kali saya menyusui, saya masih memompa di kantor. Bayi saya juga sudah lulus ASI S2. Selama jam kantor dia hanya meminum 300-400ml. Produksi ASI saya juga sudah menurun lagi mengikuti kebutuhan bayi. Saya hanya memompa 3-4 jam sekali seperti pola minum bayi saya dan hanya membawa pulang 300ml. Terkadang saat saya datang bulan dan hormon sedang berantakan saya hanya sanggup membawa 200ml. Tp saya tetap berusaha agar saya tetap bisa menyusui hingga bayi saya berumur 2th. Saya juga sudah tidak minum suplemen apapun karena saya rasa tidak terlalu berpengaruh hehe.

Jadi ketika saya sering ditanya gimana biar ASI lancar dan banyak?

Saya akan menjawab BAHAGIALAH. Tentunya diimbangi dengan pola makan yg teratur dan bergizi. Nutrisi ASI  itu dari makanan yg kita konsumsi. Kalau si Ibu tidak makan bergii, walau anak menyusu, nutrisi juga akan tidak maksimal. Jadi setahun lebih ini saya tak pernah telat makan dan selalu makan sayur. Faktor penting berikutnya adalah dukungan orang terdekat yg juga percaya bahwa ASI selalu lebih baik dan tidak putus asa untuk terus mendukung kita. Karena dari setiap tetes ASI yg kita keluarkan adalah ibadah karena Tuhan akan mengganjarnya dgn pahala dan menghapuskan dosa kita.

Jadi para ibu-ibu baru yg menikmati masa menyusui.. Happy World Breastfeeding Week!

Posted in just a story, just write

Curhat Ibu Baru ( part 1 ) : Gentle Birth ( Melahirkan Tanpa Rasa Sakit )

Harusnya ini ditulis hampir setahun yg lalu sih ya. Sekarang udah bukan baru bener juga hehe. Tapi tetep pengen sharing buat siapa aja calon ibu diluar sana yg sedang tak sabar menunggu bayi mungilnya lahir ke dunia.

Banyak orang bilang melahirkan itu sakit. Bahkan ga sedikit yg trauma dan ga mau hamil lagi lalu melahirkan karena ga mau ngerasain sakitnya kontraksi lagi. Penelitian jg menyebutkan, ukuran sakitnya melahirkan itu jauh diatas kemampuan fisik manusia menahan rasa sakit. Yg katanya disebutkan sama dengan rasa sakit 20 tulang yg patah bersamaan.

Tapi dibalik semua proses itu, seorang bayi lahir akan lahir di dunia. Bayi yg akan membuat kita jatuh cinta lagi ( setelah jatuh cinta sama suami hehe ). Dalam Islam pun melahirkan punya posisi yg istimewa. Setiap urat yg sakit diganjar pahala sebesar pahala naik haji. Sakitnya perempuan yg melahirkan juga diganjar sebesar pahala orang yg berjihad. Dan setelah melahirkan, maka bersihlah dosa-dosanya sebersih bayi yg baru dilahirkan. Sebuah hadiah yg amat besar dibalik sakit yg luar biasa.

Lalu bagaimana dengan melahirkan tanpa rasa sakit? Emang bisa?

11 bulan yg lalu, saat puasa juga, saya telah melalui proses melahirkan ini. Sebuah proses yg sangat ajaib yg sampai sekarang saya masih selalu takjub dengan proses berkembang biaknya manusia ini. Sebelum hamil, saya mendapat buku yg memang turun-temurun ‘diwariskan’ dari satu teman yg lain. Kebetulan beberapa dari kami hamil dan melahirkan bergantian. Saat tiba saatnya saya menerima buku itu, saya sangat memanfaatkan sekali. Karena emang ga ada Ibu yg bisa saya tanya gimana sebelum – saat – pasca melahirkan. Sebagian informasi saya dapat dari sharing teman, saudara, buku maupun internet. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti proses melahirkan bernama ‘Gentle Birth’. ( Bukunya yg ada tulisan Gentle Birth, saya lupa nama pengarangnya ahaha )

10370985_10204208363511981_8069199903680732566_n

Gentle birth ini intinya ibu hamil harus selalu tenang. Menikmati setiap proses kehamilan dengan senang dan tenang hingga proses melahirkan tiba. Baik dari mengatur pernafasan, menenangkan pikiran ( bisa didapat dengan rutin latihan yoga hamil nih ), lampu remang-remang, kamar yg tenang, posisi tidur yg nyaman maupun suami yg selalu memberi semangat dan menenangkan.

Waktu itu saya sudah 2 hari lewat dari HPL. Udah was-was juga. Padahal posisi bayi sudah di jalan lahir dari bulan ke 7, tapi kontraksi tak juga datang. Kebetulan selama hamil saya masih bekerja, naik turun tangga lantai 1 – 4. Ini membantu saya berolahraga dan berlatih mengatur nafas. Banyak yg bilang naik turun tangga saat hamil bahaya. Iya bahaya kalo yg emang divonis dokter ada kelainan seperti placenta previa dll. Tapi alhamdulillah kondisi saya dan janin sehat, jadi tak masalah naik turun tangga asal ga 10x juga dalam sehari dan ga cepet kaya atlet juga sih hehe. Naik turun tangga ini juga melatih otot paha saya dan cukup membantu mengurangi bengkak di kaki karena banyak gerak ini membantu melancarkan peredaran darah saya.

Processed with Rookie
34 weeks

Oke kembali ke 17 Juli tahun lalu. Pagi itu selepas sahur, saya ke kamar mandi dan saya terkejut karena ada sedikit flek di celana dalam. Mertua bilang kalo udah flek berarti udah ada pembukaan. Sempet mules tp ga teratur. Periksa ke bidan atau rumah sakit saat itu jg ya pasti bakal disuruh pulang karena kontraksi belum teratur. Jadilah saya sabar menunggu, hingga jam 11 siang saya memutuskan ke bidan ( ibunya temen juga, makanya santai ngobrolnya ). Kontraksi udah 1 jam sekali tapi si bayi ini ngeledek, giliran ditunggu kontraksi di tempat bu bidan biar bisa dicek pembukaan berapa, eh malah ga mules sama sekali ahaha. Akhirnya bu bidan cuma suruh pulang, banyak jalan aja, kalo mules posisikan berdiri biar membantu bayi lebih turun ke jalan lahir. Paling baru mau lahiran besok harinya. Kalau sudah 5 menit sekali aja ke rumah sakitnya. Kebetulan saya melahirkan di Ponorogo, jarak dari rumah ke rumah sakit cuma 5-10 menit aja.

Akhirnya saya pulang. Menikmati sepanjang siang dengan tidur. Sorenya, kontraksi sudah 20 ¬†menit sekali. Tapi saya masih merasa bisa tertahan. Tak beda jauh dari melilitnya perut saat datang bulan. Bahkan saya masih menyempatkan diri berjalan – jalan sore ditemani suami. Sambil sekali menepuk perut “ayo dek maennya diluar ih. ga pengen lihat ayah?”. Saya tetap sebisa mungkin tetap tenang.

Selepas maghrib, kontraksi sudah 15 menit sekali. Saya menghabiskan waktu menemani suami buka puasa sambil duduk di bola yoga, senam ringan yg menurut buku gentle birth emang mempercepat pembukaan dan turunnya bayi ke jalan lahir. Posisinya kita duduk di bola sambil membuat gerakan memutar searah jarum jam dan sebaliknya. Lalu membuat gerakan ke kanan dan kiri lalu ke depan dan ke belakang. Sambil duduk ya. Lebih pas lagi kalo posisi duduknya paha dibuka agak lebar kaya bapak-bapak kalo lagi duduk main catur tuh hehe

Selepas jam tarawih, masih¬†15 menit sekali. Saya masih sangat santai. Bahkan sempet ngobrol dengan tetangga yg dateng ke rumah “mulesnya udah berapa menit fin?” saya jawab 15 menit sekali. Mereka heran kok saya masih bisa ngobrol ketawa. Saya bilang “ya masih belum sakit banget bu. Masih biasa aja kaya mules datang bulan”. Bahkan jam 9 malam saya masih sempat menjahit, membuat sepasang sepatu bayi buat temen yg baru melahirkan sambil masih duduk di atas bola. Dan saya masih ga tau saya udah pembukaan berapa. Patokannya ya cuma ‘kalo udah 5 menit sekali baru ke rumah sakit’. Temen-temem yg menemani via chat jg bilang “belum kali tuh, klo udah mau lahir tuh mulesnya udah ampun deh”

Selepas jam 9, kontraksi sudah semakin terasa. Saya berbaring menghadap ke kiri. Di kamar yg redup dan tenang. Sambil ngobrol dengan suami. Ini menciptakan suasana tenang agar ibu hamil tetap tenang. Karena semakin tenang, semakin cepat pembukaan dan semakin mengurangi rasa sakit. Itu poinnya. Setiap kontraksi datang, suami akan memijat lembut punggung saya sambil memberi semangat “tarik nafas bun.. tenang ya.. bentar lagi main sama adek bayi loh”..

3 hal yang sangat membantu mengurangi sakitnya kontraksi saat itu :

1. Tetap tenang dalam suasana dan tempat yg santai. Dan ditemani suami yg tentunya membantu tetap santai.

2. Posisi berbaring kekiri sambil mengangkat lutut kanan agak keatas ( kaya lg meluk guling gitu ).

3. Tarik nafas – buang nafas panjang untuk mengontrol rasa sakit kontraksi. Sekali kontraksi datang 1-2 menit, saya tarik nafas – buang nafas panjang 5 – 6 kali. Sambil dipijit lembut di bagian punggung bawah. Ini sangat membantu mengontrol rasa sakit!

Oh ya, dari interval 20 menit sekali saya membuat catatan. Saya tempel kertas di kaca sebelah tempat tidur. Tiap kontraksi datang, suami akan mencatat jam dan menit untuk memantau interval kontraksi. Saya juga mencatat kontraksi yg terasa sangat sakit dan kapan saya ke kamar mandi. Saya juga mencatat kontraksi sambil saya duduk diatas bola.

IMG_3002

Jam 1 malam, kontraksi sudah 5 menit sekali dan saya memutuskan untuk berangkat ke rumah sakit. Tengah malam di kota kecil, cuma butuh waktu 3 menit untuk sampai ke rumah sakit. Sampai rumah sakit, saya ( masih ) berjalan dibopong suami dan bapak menuju ke ruang bersalin. Saya masih ngobrol sama bidan¬†“ruang bersalinnya yg mana mbak? saya langsung kesana aja ga usah kursi roda mbak”

Sampai di ruang bersalin saya naik ke ranjang dan bidan¬†memeriksa. Ternyata sudah pembukaan 8! “Mba kok tahan udah nyampe sini bukaan 8?” saya bilang, “saya ga tau mbak saya pembukaan berapa hehe”

Ya, saking tenangnya mungkin rasa sakit yg harusnya sudah sampai level 10 masih saya rasakan di level 5. Bidan menginstruksikan untuk tetap menahan rasa ingin mengejan sambil menunggu hingga pembukaan 10. Saya tetap mengatur nafas panjang dan berbaring menghadap kiri sambil mengangkat lutut ke kanan ke arah dada. Oh ya, saya cuma ditemani suami di ruang bersalin. Karena cuma suami yg bisa bikin tenang hehe

Sekitar 1¬†jam kemudian ketuban saya pecah. Dan ga lama kemudian, bidan menginstruksikan untuk mulai mengejan saat kontraksi datang. Berhubung saya ga ngerti, saya salah saat mengejan pertama kali ahaha akibatnya tenggorokan saya sakit. “kaya mengejan kalo pup keras itu bu.. coba lg ya..”. Bidan jg membebaskan ¬†saya saat saya ingin mencoba melahirkan dengan posisi berbaring menghadap ke kiri. Tetapi setelah 3-4 kali mengejan saya kesulitan, akhirnya saya memutuskan untuk telentang. Saya yg memegang lutut saya sendiri. Bidan tetap memberi semangat tanpa memburu-buru. Karena bidan tau saya harus tetap tenang. 2 kali mengejan, kepala bayi mulai terlihat. Tapi lalu saya merasakan kantuk yg luar biasa dan saya ingin tidur. Rasanya sangat lemas. Dan saya baru ingat bahwa saya terkahir makan saat waktu buka puasa. Saya juga tidak tidur sejak sore sebelum jalan-jalan. Saya kehabisan tenaga..

“Ayo bun semangat, kalo kamu ga dorong siapa yg mau dorong adek bayi keluar?”

Bener juga, suami atau bidan ga bisa bantu dorong. Akhirnya bidan menawarkan untuk diinfus glukosa. Saya takut jarum dan ga pernah diinfus ahaha ( disuntik aja takut ). Tapi terpaksa saya mengiyakan sambil ditertawakan mba bidan. Saya juga merasa sangat lapar saat itu. Akhirnya saya bertanya, “mba pas sela kontraksi saya boleh makan minum ga? saya bawa coklat sama minum sih”. Mba bidan cuma tertawa, “ya boleh banget mba.. kalo laper makan aja..”
akhirnya sela kontraksi berikutnya saya makan coklat dan minum minuman isotonik itu tuh. Sambil ketawa-ketawa sama suami, “mana ada ngelahirin makan coklat! ahaha”

Kontraksi berikutnya saya merasakan tenaga saya kembali. 2 kali mengejan kepala bayi masih tertahan. Setelah bidan memeriksa ternyata posisi tangan bayi ‘nyangkut’. Akhirnya bidan memutuskan untuk memotong sedikit perineum saya. ( Coba tangan adek ga nyangkut ga ada cerita sobek nih ). Benarlah, kontraksi berikutnya saya mengejan dan bidan membuat sayatan, lalu kepala bayi cantik itu keluar bersama senyum semua orang disana..

Setengah jam sebelum adzan subuh, 18 Juli, anak saya lahir. 2,8 kg panjang 49cm. Normal dan cantik sekali. Sambil proses menjahit dilakukan, bidan memberikan saya waktu berharga bernama IMD. Ini saat paling mengharukan, bersentuhan kulit pertama kali dengan bayi saya.

Dan yg jelas adalah, dijahit itu jauh lebih sakit daripada melahirkan! Selama kontraksi – melahirkan saya tidak menangis. Eh pas dijahit saya nangis teriak – teriak ahaha

Processed with Rookie
My baby Ala

 

Sekarang, 11 bulan kemudia saya ingin berbagi indah nya melahirkan. Dan ya, gentle birth adalah proses melahirkan tanpa rasa sakit..

Semoga bisa menginspirasi kalian para calon ibu. Tetap tenang dan santai. Jangan lupa minta dukungan penuh dari suami. Makin tenang kalian, makin banyak cinta diantara kontraksi, makin banyak endorphin dan oksitosin, makin berkurang rasa sakit itu. Dan makin cepat pula proses melahirkan itu. Selamat menanti bayi mungil kalian dan menjadi ibu itu menyenangkan!

IMG_2101

Posted in just write

DIY Baby Headwrap

I fall in love with headwrap! The problem is, i wear hijab everyday so i can’t wear headwrap ahaha
So i decided to make headwrap for my baby ( yeah finally i have a baby girl! Cute baby girl! ). I cut my cotton hijab and turn it to baby hearwrap.
And i remember that i still have some cute fabrics. So i took it, i cut it, and i made no sew baby headwrap for my baby. Aah she look cute with headwrap! I think i will make more for her hehe

20141001-175159.jpg

20141001-175229.jpg

Posted in just write

DIY Baby Headbands

Pinterest made my day again!

Finally i decided to make these baby headbands after i got the tutorial from Pinterest. And yes, i sell it, you can order it ūüôā

*I will make all of these headbands for my future baby girl too :*

 

20140518-194151.jpg

 

 

20140518-194206.jpg

 

20140518-194215.jpg

 

 

 

 

Posted in just write

Baby Headband!

Last Sunday was my nephew’s birthday. She is 1 year old now, and she is very cute! I know that she likes to use headband, so as a present i made 2 headbands. I went to pinterest and found some cute DIY baby headband. And i made these 2 baby headbands, so cute! I bought 2 baby headbands at the store, pulled of the ribbon and changed it with mine. I used ribbons, some transparent fabrics from my old headband and a button. Just a little sew and some glue, tadaaaa i made these 2 cute baby headbands ūüėÄ

 

20140505-120128.jpg

20140505-120138.jpg

20140505-120147.jpg

20140505-120154.jpg

 

 

 

Posted in just write

Tips : Membersihkan Rambut yang Lengket Terkena Minyak Zaitun

Ini sepertinya pertama kalinya saya nulis tips yang ga ada hubungannya dengan kamera, sketsa, prosa atau apapun yg biasanya saya tulis. Kenapa? Karena saya kesal dengan link-link tips palsu tentang ‘Membersihkan Rambut yang Lengket Terkena Minyak Zaitun’. Ketika diketik di search engine, link yang keluar sepertinya banyak dan menjanjikan. Tapi setelah dibuka ga ada, iklan banyak, iya. Padahal saya sudah risih dengan rambut sendiri yang lengket terkena minyak zaitun karena tidak langsung saya cuci setelah terkena minyak zaitun.¬†

Jika search tentang tips menyehatkan rambut, memang minyak zaitun adalah salah satu bahan yang bisa digunakan. Kemarin setelah 6 bulan jalan hamil, akhirnya saya bertemu mbak-mbak yang jago massage hamil. Nah mbak ini menggunakan minyak zaitun untuk memijat. Setelah semua badan saya dipijat kecuali punggung tengah – bawah ( kata mbaknya karena itu titik tempat bayi ‘menggantung’ jadi memang ga boleh dipijat ), dia kemudian memijat kepala saya. Ya mirip pijatan creambath lah. Karena tangan si mbak masih ada minyak zaitunnya, rambut saya jadi ikut terkena minyak zaitun. Tapi karena ternyata minyak zaitun bagus buat rambut, okelah. Nah berhubung setelah pijat baru boleh mandi 1 jam setelahnya, saya menunda mandi. Mungkin karena minyak zaitun ini saya biarkan berapa jam menempel di rambut saya, akhirnya rambut saya jadi lengket sekali. Setelah keramas 2 kali dan menghabiskan hampir setengah botol sampo, rambut saya masih lengket juga. Penasaran, saya cari di internet bagaimana cara membersihkan rambut yang terlanjur lengket terkena minyak zaitun. Tapi saya ga menemukan tipsnya. Yang ada malah membersihkan dari permen karet, telur, minyak jelantah, dll. Kesal, akhirnya saya bertanya pada teman. Dan dia memberi tips sederhana bagaimana cara membersihkan rambut yang lengket terkena minyak zaitun. Ternyata saya hanya perlu menggunakan kondisioner. Ya, hanya kondisioner.

Saya cuci rambut saya lagi dengan sampo. Setelah itu saya gunakan kondisioner ke semua bagian rambut yang lengket. Tapi kemudian saya biarkan sekitar 15 menit. Baru kemudian saya membilasnya. Setelah itu saya mengulangi penggunaan kondisioner agar rambut benar – benar bersih, kali ini dengan sedikit memijat. Akhirnya setelah saya bilas, saya menggunakan sampo lagi dan akhirnya rambut saya lembut kembali tanpa lengket sedikitpun. Yeay!

Terpikir mungkin ada di luar sana yang mengalami kesulitan yg sama, akhirnya saya menulis tips singkat ini. Jangan lupa gunakan shower cap sebelum memijat kepala jika tidak ingin terkena minyak zaitun saat massage. Atau langsung cuci rambut jika sudah selesai memijat kepala dengan minyak zaitun sebelum terlanjur lengket di rambut. Semoga membantu!