Posted in just write

Curhat Ibu Baru ( part 2 ) : Manajemen ASI dan ASIp

Minggu lalu dunia merayakan World Breastfeeding Week, minggu dimana dunia memperingati dan mendukung usaha para ibu yg berjuang menyusui anaknya. Tahun lalu dibulan yg sama, saya sedang berjuang agar saya menjadi salah satu pejuang ASI seperti ibu-ibu menyusui yg lain. Bayi saya baru berumur 1 bulan, saya sedang senang-senangnya menikmati pengalaman sebagai ibu baru dan alhamdulillah Tuhan memurahkan rejeki saya dengan dilancarkannya ASI buat bayi cantik saya..

Beberapa bulan sebelum saya melahirkan, salah satu teman baik memberi saya buku berjudul #ayahASI. Sebuah  buku yg tidak tebal berisi cerita dan tips tentang perjuangan para ayah yg mendukung istrinya untuk terus menyusui bayinya. Setelah membaca buku itu, saya bersama suami berkomitmen untuk sama-sama menjadi pejuang ASI. Perlu diingat, yg punya anak itu berdua. Maka yg harus berjuang untuk menyusui bukan hanya ibunya, tapi juga ayahnya. Bukan dengan memberi ASI juga ( yakali nyusuin jg ) tapi dengan memberi semangat dan mendukung istrinya untuk terus menyusui. Maka kemudian perjuangan untuk menyusui bayi saya pun saya mulai semenjak saya hamil besar..

Menginjak usia kandungan 8 bulan saya sudah rajin melakukan pijat payudara. Tutorialnya bisa dicari youtube, banyak banget kok. Gampang dan ga membutuhkan waktu yg lama. Sampai sehari sebelum saya melahirkan pun saya masih melakukan pijat ini sendiri. Banyak artikel yg saya baca menceritakan ibu-ibu yg walau belum melahirkan pun kolostrum ASI sudah menetes-netes. Saya tidak pernah mengalaminya. Sempat bertanya-tanya apakah akan mempengaruhi produksi ASI nanti? Tapi saya menepis pikiran negatif dan terus yakin bahwa saya pasti bisa menyusui bayi saya.

Dari buku #ayahASI, saya percaya bahwa proses IMD ini berperan penting dalam masa awal proses menyusui. Masalahnya, tidak semua rumah sakit menganut paham ini. Tidak banyak rumah sakit yg tidak melakukan IMD pada ibu dan bayi yg baru lahir. Padahal ini prolog proses menyusui yg penting! Saya dan suami pun berdiskusi untuk memilih rumah sakit yg pro ASI. Alhamdulillah rumah sakit yg saya pilih sangat pro ASI. Sempat saya berpikir jika rumah sakit yg saya pilih tidak pro ASI, saya akan request pada bidan yg membantu persalinan saya untuk melakukan proses IMD setelah saya melahirkan.

Setelah proses melahirkan yg tanpa rasa sakit ( kemarin udah cerita di part 1 ya hehe ), saya dan bayi saya ‘berkenalan’ melalui proses IMD yg sangat emosional. Senang, terharu, takut, cinta, semua rasa itu bahkan membuat saya tak bisa meneteskan air mata. 30 menit lebih dan bayi sayapun menyusu untuk pertama kalinya. Rasanya? Sekali lagi, karena terlalu emosional saya sampai tak bisa meneteskan air mata. Saya hanya bisa tersenyum.

Jam 6 pagi, sekitar 2 jam setelah saya melahirkan dan IMD dilakukan, bidan mengantar bayi saya yg sudah bersih dan wangi, terbungkus bedong. Matanya terpejam dengan sedikit senyuman di bibirnya. Ah anakku.. Cantik sekali.. Bidan mengintruksikan untuk mencoba menyusui bayi saya. Saya pun mencoba dan alhamdulillah ASI saya keluar dengan lancar. Mungkin begitu banyak hormon oksitosin yg keluar saat proses IMD tadi sehingga proses menyusui saya lalui dengan mudah. Ya, hormon oksitosin adalah hormon yg kita butuhkan agar ASI bisa keluar dengan lancar. Lalu bagaimana caranya agar hormon oksitosin berlimpah? BAHAGIALAH. Hormon oksitosin ini sering disebut hormon cinta. Jadi masih ingat bagaimana rasanya jatuh cinta pada suami dulu? Yaa minimal bahagianya kaya begitu deh biar ASI bisa lancar hehe ( tapi kayanya jatuh cinta sama anak lebih mudah ya hihi ). Jadi saya mensugesti diri sendiri untuk selalu bahagia. Suami jg memberi perhatian lebih karena dia tau saya butuh hormon ini lebih banyak agar ASI saya bisa keluar lebih lancar.

Beberapa hari sepulang dari rumah sakit, payudara saya bengkak. Produksi ASI berlimpah tapi bayi saya belum menyusu banyak. Saya sampai menangis dan susah tidur karena sakitnya. Bahkan mengangkat lenganpun saya tak sanggup karena sakit. Saudara saya menyarankan untuk membeli pompa ASI. Akhirnya saya mulai memompa dengan pompa manual. Tapi karena terlalu sakit, saya berhenti. Semakin saya sedih, semakin susah ASI keluar, semakin bengkak payudara. Dan karena bayi masih sensitif, semakin saya sedih dan khawatir, semakin rewel bayi saya. Semua saling berpengaruh. Akhirnya suami membelikan saya pompa elektrik, toh nanti saat saya bekerja saya akan membutuhkannya di kantor. Saya kembali mengompres dan memijat payudara saya setiap hari. Saat siang hari, saya akan menyusui atau memompa setiap 1-1,5 jam sekali. Saat malam hari walau bayi saya tidur masih kenyang, saya tetap bangun untuk memompa tiap 1,5-2 jam sekali. Dan akhirnya beberapa hari kemudian bengkak saya pun mulai sembuh.

Suami saya juga mengontrol pola makan saya. Saya harus makan teratur dengan menu sehat. Bahkan dia sendiri yg memasakkan sayur untuk saya dan membelikan saya stok cemilan. Saat tengah malam saya lapar pun, suami saya akan bangun untuk sekedar menemani saya makan. Ya, saya beruntung saya punya suami yg seorang ayah ASI super hebat!

Rumusnya adalah produksi ASI itu sesuai kebutuhan atau sesuai berapa banyak ASI itu dikeluarkan. Awal pumping, saya membutuhkan 2 hari untuk mengisi 1 botol ASIp 100ml. Karena bayi saya juga masih sedikit minum. Bahkan minggu pertama bayi hanya meminum 1 sendok makan ASI karena lambungnya hanya seukuran kelereng. Jadi ketika bayi menangis, tidak hanya berarti lapar. Bisa karena kegerahan, kedinginan, popok lembab/penuh, ngantuk, lelah, dan masih banyak alasan lain. Banyak ibu yg berpikir nangis = selalu lapar. Sehingga kemudian berpikir ASInya kurang lalu stress. Stress akan mengurangi produksi ASI dan akhirnya akanmenyerah pada sufor. Padahal menangis adalah cara berkomunikasi bayi satu-satunya sehingga bayi menangis tidak selalu berarti lapar.

Perlahan tapi pasti produksi ASI meningkat. Dari sekali pumping hanya 20-30ml menjadi 50ml sekali pumping hingga akhirnya saya bisa mendapat 100ml dalam sekali pumping di bulan berikutnya. Saat masa cuti, dalam 1 hari saya mendapat 1 botol ASIp 100ml.

Oh ya, saya membuat porsi 90-100ml dalam 1 botol/1 kantong ASIp karena pertimbangan kebutuhan minum bayi. Bayi saya akan mulai meminum ASIp saat saya sudah kembali bekerja dan saat itu dia akan sudah berumur 1,5 bulan. Perut bayi sudah lebih besar dan kurang lebih akan meminum 100-120ml dalam sekali minum. Asi yg sudah dihangatkan akan bertahan kurang lebih 5 jam di suhu ruangan. Dengan membagi 100ml untuk setiap porsi botol/kantong, maka saya akan meminimalisir membuang sisa ASIp. ASIp beku yg disimpan di freezer kulkas 2 pintu akan bertahan lebih dari 6 bulan. Untuk freezer kulkas 1 pintu, ASIp akan bertahan 6 bulan. Sedangkan untuk ASIp cair yg tetap dingin ( tidak di dalam freezer ) akan bertahan 5-6 hari.

Hingga akhirnya saat saya harus kembali k Jakarta, saya berhasil membawa 3,5 liter ASIp untuk disimpan di freezer. Saya membawa ice box besar. Mengisinya dengan ASI beku, ice gel beku dan beberapa plastik es batu agar tetap dingin. 4 jam perjalanan ke Yogyakarta dengan mobil dan 45 menit perjalanan k Jakarta dengan pesawat, ASIp selamat sampai di Jakarta. Tapi kemudian drama kecil muncul. ASIp tertata rapi di freezer dan ternyata keesokan harinya kulkas rusak. Beberapa ASIp mulai mencair dan harus diselamatkan. Suami saya langsung membawa semua ASIp ke rumah teman terdekat dan menyimpan disana sementara. Berapa hari kulkas tak kunjung bisa membekukan dan dengan terpaksa kami harus membeli kulkas baru demi 3,5 liter ASIp yg dikumpulkan 1 bulan lebih T_T

Akhirnya masa kembali bekerja dimulai. Masa menyusui masuk di babak baru. ASI yg keluar saat dipompa tidak sebanyak saat langsung menyusui bayi. Awal mulai pumping di kantor, saya memompa 2-2,5 jam sekali. Sama seperti pola minum bayi saya saat itu yg berumur 1,5 bulan.

Malam hari sebelumnya saya akan mengambil 4-5 kantong ASIp beku dan menyimpannya di kulkas bawah. ASIp akan mencair keesokan paginya dan suami saya akan memindahkan ASIp dari kantong ke botol kaca. Setengah jam atau 15 menit sebelum jam minum bayi, 1 botol ASIp cair dikeluarkan dan dimasukkan dalam gelas berisi air panas/hangat. Setelah cukup hangat, ASIp baru dipindahkan ke dalam botol susu. ASIp tak perlu terlalu panas karena ASIp yg baru diperah pun hanya bersuhu 36-37 derajat. Bahkan sebenarnya ASI dengan suhu ruanganpun tidak terlalu dingin buat bayi.

Saat awal kembali bekerja, sebelum berangkat saya menyusui langsung bayi saya hingga kenyang untuk menghemat stok ASIp.  Selama jam kantor, bayi saya akan menghabiskan 400-500ml. Saat malam hari, 2-2,5 jam sekali saya tetap bangun. Jika bayi saya tidak haus maka saya akan memompa. Pola ini berlanjut hingga bayi saya berusia sekitar hampir 3 bulan.

10806263_10205870439102832_5836201178086037351_n

Menuju usia 4 bulan, kebutuhan minum bayi saya bertambah. Selama jam kantor dia akan menghabiskan 600-700ml. Tapi sekali lagi, ASI itu suplly on demand. Produksi ASI saya jg ikut bertambah. Saya bisa membawa pulang 500-600ml dari kantor. Malam hari saya juga masih bangun untuk menyusui atau memompa agar stok ASIp tetap cukup. Ngantuk di kantor? Jangan ditanya ahahaha

Saya juga mencoba mengkonsumsi suplemen semacam kaplet ekstrak daun katuk, teh dari biji-bijian yg baunya seperti jamu, susu kedelai dan khusus ibu menyusui untuk meningkatkan produksi ASI. Stok cemilan di kantor ga pernah habis. Lapar sedikit makan. Dan bisa menghabiskan 2 liter air putih selama di kantor. Suami juga rajin memasak sayuran untuk saya bawa ke kantor. Tapi dari semua usaha itu, saya harus tetap merasa bahagia. Untungnya kerjaan kantor saya adalah hal yg saya sukai : mendesain. Sehingga saya bisa jauh dari kata stress. Karena stress adalah musuh besar ibu menyusui! Stress adalah faktor terbesar yg bisa mengurangi produksi ASI.

IMG_4980

Memasuki masa MPASI, kebutuhan minum bayi sedikit berkurang. Bayi saya akan menghabiskan 500-600ml selama jam kantor. Tetapi produksi saya tidak berkurang sehingga freezer mulai penuh. Akhirnya saat stok ASIp sudah 7,5 liter dan hampir tidak ada tempat untuk menyimpan ASIp, keinginan saya untuk menjadi donor ASIp saya laksanakan. Seorang teman membutuhkan stok ASIp untuk anaknya, dan senangnya saya bisa membantu 1,5 liter ASIp untuk bayinya. Yeay Ala punya saudara sepersusuan!

IMG_1408

Sekarang, 1 tahun 3 minggu setelah pertama kali saya menyusui, saya masih memompa di kantor. Bayi saya juga sudah lulus ASI S2. Selama jam kantor dia hanya meminum 300-400ml. Produksi ASI saya juga sudah menurun lagi mengikuti kebutuhan bayi. Saya hanya memompa 3-4 jam sekali seperti pola minum bayi saya dan hanya membawa pulang 300ml. Terkadang saat saya datang bulan dan hormon sedang berantakan saya hanya sanggup membawa 200ml. Tp saya tetap berusaha agar saya tetap bisa menyusui hingga bayi saya berumur 2th. Saya juga sudah tidak minum suplemen apapun karena saya rasa tidak terlalu berpengaruh hehe.

Jadi ketika saya sering ditanya gimana biar ASI lancar dan banyak?

Saya akan menjawab BAHAGIALAH. Tentunya diimbangi dengan pola makan yg teratur dan bergizi. Nutrisi ASI  itu dari makanan yg kita konsumsi. Kalau si Ibu tidak makan bergii, walau anak menyusu, nutrisi juga akan tidak maksimal. Jadi setahun lebih ini saya tak pernah telat makan dan selalu makan sayur. Faktor penting berikutnya adalah dukungan orang terdekat yg juga percaya bahwa ASI selalu lebih baik dan tidak putus asa untuk terus mendukung kita. Karena dari setiap tetes ASI yg kita keluarkan adalah ibadah karena Tuhan akan mengganjarnya dgn pahala dan menghapuskan dosa kita.

Jadi para ibu-ibu baru yg menikmati masa menyusui.. Happy World Breastfeeding Week!

Author:

dreamer. strange. different.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s