Posted in just write

Selamat Datang Masa Pemilu..

Oke sebelumnya saya jelaskan, disini saya tidak bermaksud berkomentar tentang perpolitikan yg terjadi karena ini jadi nyapres, itu tidak jd nyapres, kalo ini nyapres begini, kok itu ga bosen nyapres, dll. Sudah terlalu banyak komentar-komentar seperti ini dari para pengamat politik dadakan di media sosial. Lebih jauh, saya hanya sekedar sharing tentang apa yg terjadi dibaliknya..

Beberapa minggu lalu saya ada sesi sharing dengan coach saya di kantor. Dia mengawali sesi kali itu dgn bertanya siapa 5 orang besar yang ‘jor-joran’ ngiklan nyapres. Ternyata kemudian kami dibawa berpikir pada apa yg terjadi dibalik masa pemilu seperti ini. Pada masa pemilu, perputaran dan pemasukan uang dari investor asing ke Indonesia akan menjadi 3x lebih banyak. Berdasarkan apa investor ini memilih calon penerima dananya? Tidak lain adalah dari ‘rating’ masing2 parpol dan capresnya. Tidak tanggung-tanggung, mereka mengamati calon mereka ini kurang lebih 3-4 th terakhir. Mereka cermat melihat kinerja dan ‘popularitas’ calon penerima uang mereka. Mendekati masa pemilu, mereka selalu melihat perkembangan siapa urutan orang-orang besar yg paling berkompeten menjadi presiden di Indonesia. Dilain sisi, perputaran uang inilah yang ditunggu para parpol untuk kampanye calonnya masing-masing.
Tapi masa pemilu 2014 kali ini, para investor asing ini tak kunjung ‘menurunkan’ uangnya. Padahal masa pemungutan suara sudah dekat. Coach saya bertanya, kenapa?
Masing-masihg dari kita menjawab. Hingga akhirnya jawabannya adalah pertanyaan awal pembuka pertemuan kita hari itu. Siapa 5 orang besar capres yg sedang ‘jor-joran’ kampanye. Dari beberapa parpol besar, masing-masing sudah mengumumkan siapa calonnya. Kecuali satu. Ya, PDIP. Tapi ini bukan tanpa alasan. Karena isu calon PDIP ini adalan calon yg paling dilirik investor asing. Tapi karena ini baru isu, para pemilik uang ini beramai-ramai menahan uangnya. Menunggu keputusan. Akibatnya? Partai lain gelisah. Buat orang-orang berduit sekaya ketua parpol seperti merrka, dana swadaya mungkin masih bisa dilakukan. Tapi bagaimana dengan partai kecil? Dan siapa yg tak ingin kampanyenya didanai investor asing? Perputaran uang di Indonesia melambat, dan apa akibatnya? Harga dolar sempat meninggi bukan? Ini baru masalah perputaran uang, belum lagi lainnya. Masih sangat banyak yg kita tidak tau dibalik masa pemilu ini. Ini baru salah satunya!

Kita sebagai orang awam hanya tau sebatas kasus ‘sikut-sikutan’ antar partai di permukaan. Mulai dari kasus kecil-kecil yg membawa caleg partai di daerah sampai menguak kembali kasus besar dari parpol ternama yang sebenarnya ini bertujuan membentuk pola pikir politik masyarakat Indonesia itu sendiri. Klimaksnya adalah ketika PDIP mengumumkan siapa calonnya. Ini bukan tanpa alasan kenapa mereka mengulur waktu. Pola pikir masyarakat Indonesia yang latah komentar ini menjadi keuntungan mereka. Komentar-komentar dan survei mendadak ini adalah salah satu poin yang justru dinanti media hingga para investor asing. Dan bagi partai itu sendiri, ini adalah saat mereka membuat ‘skenario’ hingga 9 April mendatang. Mungkin tak susah bagi yang popularitas partainya sudah diatas angin. Tapi bagi parpol yang pas-pasan, setengah bulan kedepan mereka sudah tak bisa apa-apa apalagi mengubah visi misi. Bahkan mungkin dari sini pun siapa partai yang akan menang dan siapa partai yang akan kalah sudah bisa terlihat.

Politik tidak lain adalah bagaimana membentuk skenario. Dan masyakat Indonesia tanpa sadar terbawa dan dengan mudah masuk dalam skenario yg dibuat oleh orang-orang besar ini. Padahal jauh dibalik itu semua, banyak hal besar yang dibutakan dari kita, karena memang kita tidak boleh tau rahasia perpolitikan Indonesia. Dan sialnya, pola pikir masyarakat Indonesia yg dengan mudah menilai lalu sebagian besar berakhir dgn ‘bullying’ inilah yang justru membuat kita buta. Buta yang tidak membuat kita berpikir agar cerdas.

Saya hanya tercengang mendengar penjelasan coach saya karena setiap penjelasannya adalah benar. Kita tanpa sadar dikendalikan dan menjadi tak lebih hanya baris terdepan politik Indonesia. Bagian ‘rame-rame’. Seperti deretan remaja yg berteriak “lalalaa yeyeyee” ketika diarahkan bagian stage manager di sebuah acara musik murahan di salah satu stasiun tv. Ya, itulah peran kita sbg masyarakat kita di politik Indonesia. Dan ketika berapa hari terakhir saya membaca komentar-komentar dari pengamat politik dadakan di sosial media, saya langsung teringat penjelasan coach saya. Ya, lagi-lagi terbukti bahwa kita para masyarakat Indonesia berhasil ‘disetir’ oleh skenario ini..

Selamat datang masa pemilu Indonesia. Mari kita saksikan apa yang akan terjadi kemudian..

Author:

dreamer. strange. different.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s