Posted in just write

Selamat Sore Kenangan..

Jakarta sore ini membawa aku mengurut cerita-cerita yang serasa di sore yang sama. Sore-sore yang sudah berlalu, bersama orang yang berbeda-beda dan rasa bahagia yang berbeda.

Aku ingat sore seperti ini ketika aku duduk di depan rumah bersama ibuku. Hanya berdua, melihat orang berlalu lalang di jalan selebar 3 meter di depan rumah kami. Jalanan yang masih basah setelah ibuku menyiram tanaman di depan rumah. Beberapa kali ibuku akan tersenyum tiap tetangga yang lewat menyapa. Sore yang sederhana. Yang semoga bisa terulang kembali di surga bersamanya.

Aku juga ingat sore saat aku selesai les. Sore seperti ini. Aku masih seusia anak-anak SMA itu. Berkeliling kota bersama sahabat terbaik, mampir membeli jajanan murah di tepi jalan lalu pergi ke sawah dekat pinggiran kota. Tak ada, hanya ingin menikmati sederhananya sore itu bersama-sama. Menunggu senja yang siapa tau akan datang dengan cantiknya.

Aku juga ingat sore ketika aku hanya duduk menikmatinya di depan rumah nenekku. Sambil menikmati baunya, anginnya, yang sama seperti sore ini. Tapi sore itu aku masih mendengar celoteh suara ibuku mengobrol dengan nenekku. Sesekali terdengar tawa bapakku. Dan suara televisi yang tak mau kalah dengan mereka. Sebuah sore saat aku merasa aku berada di tempat yang bernama rumah. Bersama orang-orang yang aku tak ingin kehilangan. Tapi sore ini aku hanya bisa mengingat mereka. Ibuku dan nenekku. Mereka sudah berada di alam penantian sebelum dunia akan berakhir.

Aku ingat pula sore saat aku masih bersama seseorang yang dulu pernah menjadi harapanku. Sore di sebuah desa di tepi Jogja. Dengan pohon bambu bergelayut di depan rumah dan 2 ekor kucing yang menemani saat kami meminum teh bertiga. Bersama ibunya atau keponakannya. Kadang ditemani tahu bacem. Bau sore yang semakin sederhana di sebuah desa yang sederhana. TentunyA bahagia itu sudah berlalu, terganti oleh bahagia yang jauh lebih indah bersama seseorang yang jauh lebih mengantarkan aku menuju bahagia.

Aku lalu ingat sore yang sama saat bapakku memacu kencang mobilnya menuju pelabuhan Madura. Kami berempat. Aku, bapakku dan kedua adikku. Sore menuju senja itu, bapakku ingin aku punya waktu memotret senja di pelabuhan. Kami berjalan berpacu waktu. Sebelum langit gelap dan matahari hilang membawa indahnya warna di ufuk barat. Saat itu kami sudah di penghujung libur lebaran. 3 tahun lalu sepertinya. Sore yang sederhana, mengejar senja, bersama keluarga tercinta. Walau pada akhirnya aku tak mendapat langit kemerahan itu karena mendung bergelayut malas di barat. Bapakku meminta maaf yang tentunya pasti bukan kesalahannya. Yah, dia hanya ingin menghibur anaknya.

Masih banyak sore-sore yang lain. Sore yang serasa sama seperti sekarang. Yang sepertinya baru berlalu seminggu yang lalu. Aku rindu sore-sore sederhana seperti itu. Jadi kubiarkan aku mengingatnya sore ini, tersenyum sendiri dan kembali merasakan rasa yang sama. Ditemani langit sore yang sama lewat jendela sederhana kamarku.

Selamat sore semua..
Selamat menikmati kenangan..

20140111-174737.jpg

Author:

dreamer. strange. different.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s