7 Tahun Lalu..

Ya, 7 tahun lalu adalah gempa 5,9Sr yang mengguncang Jogja dan membuat riuh kota sedamai Jogja. Membawa banyak jiwa kembali ke Tuhannya, diiringi air mata yang memohon mereka kembali..

Pagi itu, pukul 5 lebih. Masih sepi dan setengah tidur kudengar ibuku bertanya, “mau sarapan jg gak? Ibu mau jalan-jalan sama adik”. Aku tak menjawab, terlalu nyaman aku meringkuk dibawah selimut. Baru semalam kami sampai di Jogja. Ibu, kedua adikku dan sepupuku mengantarku yang akan memulai menuntut ilmu di Jogja. Entah sudah larut sepertinya saat kami sampai kost baruku.

Aku melanjutkan tidurku. Sepi sekali di lantai2, makin pulaslah aku. Lalu tiba-tiba aku merasa tubuhku diguncang. Aku hanya berkata, “ntar dulu.. masih ngantuk..”. Makin diguncang tubuhku, tapi aku merasa tak ada tangan yang menggoyangkan tubuhku. Setengah sadar aku berusaha berpikir keras, lalu kenapa tubuhku bisa berguncang keras? Seketika suara pecahan piring menyadarkanku. Aku terbangun dan kulihat lemari di depan mataku berguncang keras. Telingaku mulai bekerja dan mendengar gemuruh itu. Keras sekali. Seperti suara pesawat yang hendak lepas landas di atas kepalaku. Aku mencoba berdiri, tapi guncangan itu terlalu keras. Entah sudah berapa kali terjatuh, akhirnya aku mencapai tangga. Tangga curam yang sudah sulit jika dituruni saat normal. Dan aku harus menuruninya dengan guncangan sehebat itu. Benar saja, baru 3 anak tangga aku terjatuh. Sakit sekali. Sampai anak tangga terakhir, tak kulihat siapapun di lantai 1. Mungkin mereka sudah lari mencari tanah lapang, entah sejak kapan aku ditinggal sendiri. Aku mencari pintu dan aku berlari keluar. Melewati gang sempit diantara dinding tinggi yang sewaktu-waktu bisa menindihku dan membuat tulang-tulangku patah. Dibelakangku, tower setinggi entah berapa puluh meter bergoyang kencang. Seperti mencari ancang-ancang di sisi mana dia akan terjatuh. Sementara tiang-tiang listrik disampingku mengguncang kabel-kabel listrik bertegangan tinggi diatasku. Aku berlari dengan pikiran penuh ancaman mati. Dari dinding, tower dan tiang listrik berkabel. Ya Gusti.. ada apa dengan bumiMu pagi ini?

Akhirnya aku sampai di trotoar jalan. Kulihat banyak orang berlarian. Panik, menangis dan berteriak diantara suara gemuruh. Aku mulai berpikir, di mana ibuku dan adikku? Aku sendiri! Aku ikut berlari bersama orang-orang yang berteriak, “ke selatan.. gunung merapi meletus!”. Tiba-tiba kulihat mangkuk merah muda. Berguncang di bawah pohon kecil di tepi jalan. Milik adikku yang tadi dipegang ibuku. Aku mencari mereka, tapi tak kulihat satupun orang yang kukenal. Aku sendiri! Aku panik dan ingin menangis. Tapi bukan waktunya, aku harus mencari tempat yang lebih aman. Hingga akhirnya gemuruh itu berhenti. Tanah di bawah telapak kakiku tak lagi berguncang..

Aku berhenti berlari dan jatuh terduduk. Lemas, takut. Aku sendiri di kota orang, baru semalam dan aku sudah hampir mati. Duh Gusti.. ada apa dengan bumiMu?

Aku berjalan kembali ke depan gang kostku. Berharap ada orang yang kukenal kembali kesana. Dan tiba-tiba kulihat ibuku dan adikku. Keluar dari wartel sebelah. Adikku menangis, ibuku panik dan kami berpelukan. Ya Gusti.. terima kasih, masih kau beri keselamatan untuk kami ..

“Ibu baru nelpon bapakmu, tapi ga bisa. Telponnya ga bisa”, ibuku berusaha bicara tenang. Aku tak bisa berpikir. Aku hanya ingin pulang, ke rumah. Bukan di sini.

Tiba-tiba kudengar suara ambulan. Berdenging kencang. Dibelakangnya kulihat sepeda motor melaju kencang, membawa wanita tua berdarah-darah di belakangnya. Aku tersadar, ini bencana besar.. Sebesar apa? Aku butuh radio atau televisi. Tapi sepertinya listrik juga sudah padam. Guncangan sekeras itu tak mungkin membuat semuanya tetap normal.

“Ini kenapa mbak? Aku tadi malem mimpi. Jalannya rame, banyak orang nangis. Banyak orang berdarah tidur di pinggir jalan mbak. Ada yang ditaruh truk besar. Isinya orang mati banyak.”, adikku tiba-tiba bercerita. Aku terhenyak. Mungkinkah akan sama Jogja seperti mimpinya? Ya Gusti.. lindungi kami..

Aku menenangkan Ibu dan adikku, “Kita di sini aja ya. Jangan masuk dulu. Takut nanti ada gempa susulan”. Akhirnya teman-teman kost datang kembali satu-persatu. Kami menunggu aman di pinggir jalan. Masih takut. Sambil berharap siapa tau ada seseorang membawa kabar berita tentang apa yang terjadi. Semua sambungan telepon terputus. Begitu juga listrik.

Tak terlalu lama, sepupuku datang membawa mobil. Dia berlari berteriak, “Gapopo kabeh? Tempat Bu Har di tamansari gapapa. Tapi rumah tetangganya pada hancur”. Aku bergidik, ini gempa besar, berapa skala richter itu tadi?

Tiba-tiba kudengar orang berteriak sambil memacu motornya kencang, “tsunami! utara.. utara.. naik semua cepat ada tsunami!”

Ya Gusti.. ada apa lagi ini? Belum lama kami bisa mengatur nafas selepas gemuruh gempa mengguncang kami. Dan bayangan tsunami Aceh berapa tahun yang lalu tergambar dipikiranku. Akankah Jogja akan disapu air bah seperti itu?

“Ayo semua masuk mobil! kita ke arah utara. Cepat!”, sepupuku berteriak. Kami semua masuk. Mobil berkapasitas 7-8 orang itu langsung penuh terisi 10 orang. Berdesakan. Sepupuku langsung memacu mobil ke arah utara. Melewati UGM, menuju perempatan Kaliurang. Tapi jalan terlalu penuh. Orang-orang panik menuju utara. Kulihat sebuah mobil pick-up membawa jenazah seorang nenek. Badannya ditutup tikar, kaki dan jariknya terlihat berlumuran darah. Beberapa jari kakinya terlihat patah. Seorang wanita paruh baya dan laki-laki kecil di sebelahnya menangis nanar. Menatap kosong sambil menyebut nama Tuhannya. Aku bergidik ngeri, Duh Gusti.. cobaan ini begitu berat bagi kami…

Tiba-tiba seorang pria berteriak, “Airnya sudah sampai malioboro! Tsunami!!”. Kalimat itu membuat tangisan orang-orang semakin menjadi. Teriakan-teriakan saling menyahut, “Allahu Akbar!”

Aku lemas dan air mata mulai meleleh di pipiku. Jika hari ini memang ajal untuk kami, jangan pisahkan jasad kami ya Gusti. Agar mudah sanak keluarga kami mencari.. Pikiranku sudah penuh kata mati. Aku pasrah..

Duk.. duk.. duk.. “Pak tolong Pak.. kami butuh angkutan Pak.. Kami tak ada kendaraan. Kami ikut sampai atas Pak”, tiba-tiba seorang pria yang menggendong balita mengetok jendela mobil kami. Istrinya menangis di sampingnya. Ibuku tak tega lalu memerintah sepupuku, “bukain kunci pintunya, biar mereka ikut kita”. Lalu mereka masuk, 13 orang berdesakan di dalam. Menangis pasrah seakan sama-sama menanti ajal..

Lalu aku berteriak, “Radio mas! nyalakan radionya. siapa tau ada sinyal, ada berita!”.
srek.. srekk.. srek.. Susah sekali mencari radio yang tak ditinggal penyiarnya. Dan akhirnya kami mendengar suara penyiar wanita, melaporkan parahnya keadaan sekitar. Banyak rumah hancur, banyak korban meninggal dan terluka.. Besarnya gempa yang mengguncang Jogja pagi ini.. dan kebingungan tentang kebenaran kabar tsunami..

Akhirnya kalimat di radio itu membawa berita yang paling kami nanti, “Saudara-saudara diharap tenang, tsunami tidak terjadi. sekali lagi, tidak ada tsunami! Air yang menggenang di jalan adalah karena saluran air yang pecah. Jogja aman! Semua harap tidak panik dan kembali ke rumah masing-masing”

Kabar itu adalah angin sejuk bagi kami yang berdesakan di dalam mobil. Kabar gembira seolah kabar merdeka saat Indonesia berperang melawan penjajah. Kabar bahwa ajal tak lagi sedekat itu dengan kami yang belum cukup pahala untuk dibawa mati..

Akhirnya kami kembali ke kost. Menenangkan diri dan mengatur nafas. Berpikir dan menyadari bahwa diri ini memang tak siap mati dini. Terlalu banyak dosa dan kali ini Tuhan berbaik hati mengingatkan. Sudah apa kau di dunia?

Pelan akhirnya Jogja kembali tenang menjelang siang. Walau sesekali gempa berskala 3-4 Sr masih mengguncang perlahan. Tapi 1 menit diguncang 5,9 Sr sudah membuat kami mati rasa dengan gempa yang lebih kecil.

Hari itu juga kami kembali meninggalkan Jogja. Kabarnya, tak ada transportasi umum yg membawa keluar atau masuk Jogja. Telepon dan listrik juga mati. Insfrastruktur Jogja tak berdaya. Jogja lumpuh.

Ratusan bangunan ambruk. Ratusan korban berjatuhan. Yang meninggal, luka berat atau sekedar luka ringan. Tapi trauma di hati kami semua yang berada di Jogja meninggalkan luka tersendiri. Rasa mendekat pada ajal membuat kami semua tersadar begitu besar kuasa Tuhan.

Sepulang dari Jogja, aku mengalami semacam trauma ringan. Ketika kudengar sirene ambulan atau teriakan, aku akan menangis ketakutan. Dan ini berlangsung hingga beberapa minggu. Bahkan hingga beberapa bulan kemudian, aku masih bergidik ketika mendengar suara sirene ambulan. Aku membencinya. Membuatku teringat hari dimana aku berpikir mati dari pagi.

Tapi semua tak menyurutkan niatku untuk kembali ke Jogja. Beberapa bulan kemudian aku kembali ke Jogja dan menuntut ilmu di sana. Hingga kurang dari 4 tahun kemudian kudapat gelar sarjanaku di kota itu.

Dan kini 7 tahun kemudian, Jogja tetap berhati nyaman. Tetap membawa damai walau pernah memberiku sehari penuh ketakutan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s