Posted in just write, me and camera

Trip to Madura

Sebenernya ini trip waktu lebaran  tahun kemarin, dan mau dipost setelah hasil holga selesai didevelop. Tapi ternyata setelah didevelop, hasil si holga fail semua gara2 ga ngubah mode N-B dari awal rol ahahha bego parah ini. Jadi cukup mengandalkan foto dari hp, here’s my story to Madura, my dad’s home..
image

Kalo ga panas, ga Madura. Bahkan Madura lebih panas dan kering dari Surabaya. Jadi yg mau ngetrip ke Madura, jgn lupa bawa air minum kemanapun.
Jadi Di Madura ini ada 4 kabupaten. Dari barat ke timur : Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Hari ketiga lebaran saya berangkat dari Pamekasan ke Sumenep, perjalanan sekitar 1,5 jam. Ada acara keluarga tahunan di sana. Dan sepulang dari sana, baru saya mulai berjalan -jalan..

Cuma ada 2 jalan utama di Pulau Madura, sepanjang pantai utara dan pantai selatan. Kebetulan saya melewati jalur selatan, dan pantai di sepanjang jalan ini sangat bagus. Di sepanjang jalan pulang Sumenep – Pamekasan saya berhenti dan menyempatkan diri untuk memotret di Pantai Talang Siring.

image

image

Bulan itu saat panen yg baik untuk para nelayan. Dan pada bulan-bulan seperti ini mereka akan membangun semacam tempat untuk mengumpulkan hasil laut mereka di tepi pantai. Mereka menggunakan bambu untuk membangun konstruksi ini. Dan saat musim ikan selesai, mereka akan ‘membongkar’ kembali bangunan bambu ini.

image

Malamnya saya mampir ke rumah seorang kerabat yang kebetulan pengusaha batik Madura. Motif batik Madura berbeda dengan batik Jawa, dengan warna-warna terang sebagai salah satu ciri khasnya. Dan beruntunglah saya, sepulangnya saya dihibahi salah satu batik Madura berwarna kuning😀

image

Sepulangnya, saya mencicipi sate ‘lalat’. Sebenernya ini sate ayam seperti biasanya, hanya karena ukuran potongan dagingnya kecil, maka sate ini disebut sate lalat. Satu porsi sate terdiri dari 20 tusuk sate dan sepiring lontong atau nasi. Harganya lupa, tapi murah banget. Masih dibawah Rp. 20.000 untuk 1 porsinya.

image

Keesokan paginya, saya mengunjungi salah satu pasar tradisional yang menjual batik Madura di Pamekasan. Pasar ini akan ramai setiap hari Kamis, dan kebetulan hari itu adalah hari Kamis. Dan betul, lebih banyak pedagang batik hari itu dan dengan harga lebih murah tentunya. Batik ini dijual mulai harga Rp. 35.000 hingga ratusan ribu rupiah. Salah satu penjual makanan khas Madura menarik perhatian saya di sini, bubur Madura. Ya semacam jenang bubur di pasar gitu sih, gula merah, jenang mutiara, kuah santan, enak sekali.

image

image

wpid-2012-08-23-10.16.56.jpg

Puas mengunjungi pasar batik Madura, keesokan paginya saya menyempatkan diri untuk sarapan bebek goreng Madura. Konon selain sate lalat, bebek goreng adalah menu khas Madura. Kenyang sarapan, saya berangkat menuju Bangkalan untuk mengunjungi rumah nenek sebelum akhirnya kembali menyebrang menuju Surabaya. Selama perjalan, saya kembali disuguhi pemandangan pantai yang sangat cantik di sepanjang jalan utama dari Pamekasan menuju Bangkalan. Sepi, dan masih sangat alami. Udara yang panas siang itu membuat saya memilih membuka jendela dan menikmati angin laut yang lebih segar.

Pantai Madura

Di Bangkalan saya menyempatkan untuk mencicipi menu khas Madura yang lain yaitu rujak. Rujak di sini menggunakan petis merah yang terbuat dari sari ikan. Yang berbeda lagi, ada potongan mangga muda dan keripik dari singkong yang dipipihkan. Dan keripik ini hanya ada di Pamekasan.

wpid-2012-08-23-15.40.40.jpg

Selesai makan, hari sudah sore. Kami berangkat menuju pelabuhan untuk kembali ke Surabaya. Rencananya saya ingin memotret sunset dari kapal laut saat menyebrangi selat Madura. Bapak yang menjadi sopir memacu kecepatan mobil agar anaknya mendapat ojek foto yang diinginkan. Tapi arus balik lebaran membuat jalanan ramai, dan saat sunset, kami baru tiba di pelabuhan Kamal. Langit juga tak menunjukkan warna lembayung sore itu, mendung menggelayut mengantarkan kami menuju petang. Tak lama, baru kami naik menuju kapal laut dan kembali ke Surabaya.

Selesailah jalan-jalan di Madura. Waktunya menjadi pekerja dan kembali ke Surabaya. Buat teman-teman yang ingin berjalan-jalan, pulau Madura masih sangat bisa jadi destinasi. Pantai-pantai di sana masih belum banyak terjamah. Warganya juga ramah, tak pemarah seperti yang orang-orang bayangkan. Hanya nada bicaranya memang sedikit tinggi dan menyentak, tapi itu bukan berarti marah. Hanya sebatas gaya bicara bawaan, dan budaya tentunya. Selamat jalan-jalan, dan selamat menikmati Madura.🙂

Author:

dreamer. strange. different.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s