Posted in just write

90 detik..

Semalam, selepas rutinitas kantoran aku pergi menemui bapakku yg kebetulan sedang bertugas di Surabaya timur. Genangan air yg kutemui di sepanjang jalan belum surut selepas hujan sepanjang sore. Dingin dan sedikit gerimis, aku menikmati perjalanan menerobos kemacetan. Puluhan kali aku bertemu pengendara jalan yg tak sabar, melaju kencang dengan klakson memburu seakan tak sayang nyawa. Jalanan licin, aku mengambil lajur paling kiri. Malas berurusan dengan mereka.

Di sebuah perempatan lampu merah besar aku terhenti. Puluhan lampu kecil berwarna merah menyala, membentuk angka. Menghitung mundur dari angka 90. Disanalah aku melihat seorang ibu tua dan seorang anak remaja laki-laki. Setumpuk koran terbungkus plastik mereka gendong erat. Begitu lampu lalu lintas menyala merah dan puluhan kendaraan berhenti, sang anak berdiri menjajakan dagangannya. Sang ibu kulihat sedang duduk lelah ditrotoar pembatas jalan. Tak ada alas kaki atau jaket untuk menahan udara dingin dan gerimis malam itu.Hanya selapis kain kebaya encim lusuh dan jarik yg terlilit hingga betisnya.
Matanya sayu, menatap kosong ke puluhan kendaraan yg berhenti. Entah apa yg dipikirkannya. Mungkin dia sedang membayangkan dirinya sedang duduk di dalam sebuah mobil mewah, mendengar lagu pengusir lelah dari radio, tanpa berpikir bagaimana agar korannya habis terjual. Atau mungkin dia sedang membayangkan sebuah kamar yg nyaman, dengan selimut tebal dan perut kenyang, tanpa berpikir bagaimana dia dan anaknya bisa makan dan tidur nyenyak malam itu. Atau justru dia melamun bagaimana dia harus melunasi hutang-hutangnya yang entah sudah berapa ratus ribu rupiah. Atau bisa juga dia sedang mengalihkan perhatiannya sendiri, mengusir rasa dingin dan lelah. Mengusir penat karena koran-korannya tak habis terjual malam itu..

90 detik kemudian lampu menyala hijau. Perlahan barisan terdepan mulai berjalan. Sang anak berlari kembali ke tempat ibunya. Menggelengkan kepala dengan senyum terpaksa lalu duduk memeluk setumpuk korannya di samping ibunya. Ibunya hanya membalas dengan tatapan sayu dan sebuah anggukan kecil. Akupun melaju, meninggalkan adegan dari mayoritas rakyat miskin di negeri ini.

90 detik itu membuatku menangis seketika..
Pikiran pertama yg muncul saat melihat mereka adalah betapa baiknya Tuhan padaku, aku bersyukur.. Memberiku kehangatan dibalik jaket yg kupakai, dan tanpa pikiran bagaimana agar koran daganganku habis terjual malam itu lalu aku bisa makan.

Pikiran kedua, aku membayangkan bagaimana jika ibu tua itu adalah ibuku. Hidup bersusah payah demi anak-anaknya setelah mati ditinggal suaminya.
Seketika aku menangis.. lalu bersyukur telah Kau panggil ibuku agar lebih dekat denganMu. Bapakku pasti lebih kuat berada dalam posisi hidup ditinggal mati istrinya. Dan ibuku pasti lebih damai disana tanpa rasa sakit yg harus diderita semasa hidupnya.

90 detik itu membuatku bertambah yakin..
Bahwa hidup memang tak akan pernah adil bagi mereka yg tak mau bersyukur. Tak akan bertemu puas jika kau memandingkan dirimu dengan mereka yg kondisinya jauh lebih baik.
Masih banyak yg jauh lebih kekurangan. Lihatlah mereka agar kau ingat apa yg sudah kau dapat.

Bersyukur itu tak mahal..
Tapi mensyukuri cobaan itulah yang membutuhkan jam terbang tinggi. Dan mungkin itulah satu-satunya cara agar hidup menjadi adil bagimu..

Author:

dreamer. strange. different.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s