Posted in just a story, just write

Kesabaran seorang ibu itu..

Channel televisi tak hentinya berganti – ganti setiap menit, si empunya remote televisi melampiaskan kesabarannya yang terkikis lewat tombol – tombol angka 1 hingga 9, bahkan kadang menambah menjadi 2 digit angka hingga kali ini angka 0 bisa ikut ambil bagian. Tak satu pun acara televisi mampu mengatasi kegelisihan penonton televisi 12 inch malam itu yang cemas manunggu anak perempuannya yang bahkan genap berusia 17 tahun itu belum pulang selarut ini.

Begitulah ibuku, tak akan ia tidur sekalipun hingga pagi sampai anak dan suaminya sudah terlelap di rumah. Dan begitulah adikku, anak – anak menjelang remaja berusia 16 tahun yang bebal, suka membatahkan ibuku. Hanya kepada bapakkulah ia tak berani bahkan menatap matanya saat dibuatnya muntab. Tapi tak akan gentar atau menangis, terlalu keras wataknya. Persis seperti watak ibuku sebenarnya, tak sabaran dan keras kepala. Tapi pasti ia punya alasan untuk apa yang diperbuatnya. Sekali pun cara penyampaian alasannya bercampur emosi sehingga terkesan marah.

Hampir tengah malam baru tampak batang hidung adikku. Perlahan – lahan dia buka pagar dan pintu agar tak berisik dan membangunkan ibuku. Tapi malang nasibnya, ibuku langsung keluar menyambutnya dengan wajah tertekuk – tekuk dan berangkai kata yang sudah disiapkannya saat mengagnti – ganti channel televisi tadi.

“Kamu mau jadi apa jam segini baru pulang? Kamu pikir ibumu akan tenang, tidur terlelap tak peduli? Ibu mana yang akan seperti itu? Dan anak perempuan mana yang baru kelas 1 SMA saja sudah main samapi larut malam! Kamu tau nak, sudah dipukul pakai sapu lidi sama nenekmu kalau ibu dulu berani pulang tengah malam!”

Tak gentar adikku menjawab, “Ibu tak mau dengar alasanku dulu, tapi ibu sudah marah!”. Terburu – buru ia masuk kamar lalu membanting pintu. Tinggallah ibuku berdiri terpaku di depan pintu kamar. Pedih hatinya pasti. Sudah berusaha bersabar, mencemaskan anak perempuan yang selalu disebut dalam doa ba’da sholatnya, tetapi yang dia dapat justru ledakan amarah anaknya ditambah bantingan pintu pertanda keinginan menghindar dan penolakan.

Esok paginya, kulihat matanya sembab. Irit pula kata – katanya. Menjelang siang, kuhampiri dia. Tak perlu aku bertanya, dia berkeluh kesah, “Salah apa ibumu ini sampai begitu perlakuan adikmu pada ibu? Tak habis pikir ibu. Siang malam kudoakan anak – anak ibu, kudoakan adikmu, memohon hingga ibu menangis pada Allah agar adikmu sedikit melunak keras kepalanya itu. Ibu hanya takut jika ibu kelewat muntab, tak sadar ibu mengutuknya. Bagaimanapun dia anak ibu. Ibu sayang sama adikmu. Ibu tak mau dia jadi anak durhaka..”, merah matanya hampir menangis, bercerita padaku. Aku habis kata, tertegun. Sebegitu besar kasih sayang ibuku pada anaknya sekalipun anaknya berbuat demikian. Kesabaran ibuku memang tiada duanya, sungguh aku mengaguminya. Tak mudah, sungguh tak mudah melatih kesabaran hingga ke titik itu..

Author:

dreamer. strange. different.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s