Posted in just a story, sketch

Sampai jumpa ayah !

Dia tak berhenti mengunyah. Ini sudah bungkus kedua coklat yang dia lahap. Matanya memandang keluar kaca, memperhatikan apapun yang berkelebat cepat. Sesekali kepalanya menoleh mengikuti apa yang dilihatnya, sesekali dia akan tersenyum atau terkekeh kecil, menunjuk objek yang menarik perhatiannya dengan telunjuk menempel di kaca jendela. Kepolosan anak kecil berusia 6 tahun itu terlihat kontras dengan ibunya. Disebelahnya, ibunya tampak sembab. Matanya merah, bengkak. Air matanya masih menetes dari kedua matanya yang memandang kosong ke depan, bersandar lemah di pundak sang bibi yang memeluknya sepanjang perjalanan ini. Di depan, pak supir tampak serius mengemudikan mobil majikannya. Mereka melaju dengan kecepatan tinggi siang itu, terburu – buru. Tak sabar bertemu jasad sang ayah di pulau sebelah…

*    *    *

“Mana.. mana suamiku ?!”, sang ibu berteriak histeris. Menyeruak diantara deretan panjang pelayat yang masuk ke ruang tamu rumah mertuanya itu. Mertuanya sudah lama mati. Dan rumah itu menjadi milik adik iparnya. Semalam, suaminya, sang ayah, berpulang menemui Tuhan saat mengunjungi adiknya sepulang berobat ke ‘dokter’ kampung yang katanya manjur. Dia sudah tak percaya dokter. Semua dokter yang didatanginya menyatakan dengan nada keheranan yang sama, “Hasil test Bapak normal, saya tidak tau kenapa Bapak bisa menjadi setengah lumpuh begini. Mungkin ini penyakit ‘kiriman’ pak”

Diagnosa dokter beberapa bulan yang lalu, dia menderita beberapa deretan nama penyakit berat. Setelah berobat ke sana ke mari, dari dokter lokal hinggal dokter di negara tetangga, keadaannya membaik. Kadang, sebulan atau 2 bulan sekali kondisinya akan memburuk dan harus dirawat di rumah sakit beberapa hari.  Dan setiap itu pula istrinya tak rela meluangkan waktu kerjanya demi merawat suaminya. Workaholic. Begitu sosok istrinya, sang Ibu, kata orang – orang. Kini dia terisak hebat di depan jasad suaminya. Sebatas kata menyesal mungkin tak cukup mewakili apa yang dirasakannya.

“Maafkan aku yah.. aku ini cuma istri yang durhaka pada suaminya..”, sang ibu mengulang kalimat itu untuk kesekian kalinya diantara isak tangisnya.

Adik iparnya terisak memeluk sang ibu. Berusaha menenangkan. Tapi bisa apa mereka, sang Ayah sudah berpindah alam semalam, tanpa mengucap salam. Para pelayat menyambut adegan ini dengan sahutan tangis. Tak terhitung berapa banyak air mata mengalir lalu terhapus dari pipi orang orang – orang yang datang. Tak laki – laki, tak perempuan, tak tua, tak muda. Terkecuali si anak lelaki kecil itu. Anak satu – satunya dari sang almarhum ayah dan ibu yang workaholic.

Dia mengamati, dari satu wajah sendu ke wajah sendu yang lain. Dari wajah ayahnya yang membiru dan beku ke wajah ibunya yang memerah dan basah. Pipinya kering, tak seperti puluhan orang di sekitarnya. Raut wajahnya perpaduan antara bingung, ragu dan bertanya – tanya. Dihampirinya salah seorang kakek dan bertanya, “kenapa kakek menangis ?”

Sang kakek menjawab, “Ayahmu meninggal nak.. dia sudah mati. Dia orang baik..”

Anak lelaki terheran, “Lalu kenapa kakek sedih dan menangis ? Bukankah ayah orang baik, dan bukankah orang baik masuk surga yang bagus ?”

Sang kakek terdiam memandang anak lelaki. Anak lelaki itu lalu berjalan meninggalkan sang kakek, menghampiri seorang ibu – ibu dan kembali bertanya, “Kenapa tante menangis ?”

Sang ibu – ibu pelayat menjawab, “Ayahmu meninggal nak.. sudah lama dia sakit dan menderita. Akhirnya dia harus seperti ini..”

Anak lelaki kembali terheran, “Lalu kenapa tante menangis ? Bukankah ayah sekarang sudah tidur nyenyak ? Ayah ga bilang sakit lagi. Itu ayah tidurnya ga merintih sakit kayak biasanya.”

Si ibu – ibu pelayat juga terdiam kali ini. Anak lelaki itu lalu menghampiri ibunya. Dilihatnya ibunya nanar, menangis sesak, duduk bersandar di samping jenazah ayahnya.

“Bu, kenapa ibu menangis ?”, anak lelaki bertanya pada ibunya.

“Ayahmu nak.. dia sudah meninggal. Sama siapa ibu nanti ?”

“Ibu kan masih bisa sama dede. Biasanya juga sama dede, bobonya juga sama dede.”

Sang ibu bertanya kembali, “Tapi ayah ga sama kita lagi de, sampe ibu tua, sampe dede gede.. Ayah udah pergi..”

“Ayah perginya ke mana sih bu ?”, anak lelaki penasaran.

“Ke surga nak. Tempatnya jauh lebih bagus daripada di dunia”, sang ibu menjelaskan perlahan.

“Lalu kenapa ibu sedih ? Kan ayah pergi ke tempat yang lebih bagus. Pasti ayah senang kan ?”, anak lelaki kembali bertanya.

Sang ibu terdiam, sejenak, lalu berkata, “Tapi ayah tidur terus de, ga bangun – bangun lagi. Ga bisa main sama dede”

“Tiap ayah bangun, bilangnya sakit. Trus kalo ayah bobo, ibu bilang jangan ganggu ayah. Trus kenapa sekarang ibu pengen ayah bangun ? Kalo ayah mengigau bilang sakit pas bobo, ibu bingung. Sekarang ayah bobonya ga bilang sakit. Berarti ayah ga sakit lagi kan sekarang ? Kenapa ibu juga bingung ?”, sang anak lelaki kembali memburu ibunya dengan pertanyaan – pertanyaan yang lain.

Sang ibu diam, berpikir seraya bingung memilih pertanyaan. “Dede ga sedih ditinggal ayah ke surga ?”, sang ibu bertanya keheranan, kenapa anak lelakinya berpikir seperti itu.

“Kemaren ayah cerita surga sama dede. Katanya tempatnya baguuuus sekali. Ayah kemarin tanya sama dede, ayah boleh ga pergi ke surga. Tapi dede ga boleh ikut dulu. Dede pengen ikut ayah. Tapi kata ayah, kalo dede mau ikut, dede harus lulus ujian bisa jagain ibu sampe gede. Kata ayah, dede harus jadi orang baik dulu, baru bisa ikut ayah ke surga”

Sang ibu terkesiap, lalu kembali bertanya, “Dede ga bisa main sama ayah lagi loh. Ayah bobo terus sekarang, ga bangun – bangun”

Anak lelaki kembali menjawab, “Kemarin ayah juga bilang gitu, Bu. Dede ga mau. Tapi kata ayah, ayah cape. Ayah ga kuat sama sakitnya. Kalo dede mau ayah sembuh, dede ga boleh sedih kalo ayah bobo terus ga bisa main sama dede. Ayah bobo terus tapi sakitnya sembuh, trus bisa ketemu Tuhan di surga. Gitu kata ayah. Makanya dede ga sedih. Nanti kalo dede udah gede, dede bakal ketemu ayah di surga lagi. Dede udah janji sama ayah ga mau sedih..”

Sang ibu kehabisan kata. Dia bingung hendak bertanya apa lagi. Nyatanya pikiran sederhana anak lelakinya bisa menerima kepergian ayahnya dengan cara yang sederhana. Dia memeluk anak lelakinya, menangis hebat untuk kesekian kalinya.

“Ibu jangan nangis. Kata ayah, menangis itu cuma bikin ayah sakit lagi nanti di surga. Makanya dede udah janji ga mau nangis kalo ayah bobonya lama trus pergi ke surga duluan. Kan ada dede yang nemenin Ibu. Kata ayah, ayah sedih kalo ibu ga nemenin ayah. Sekarang dede ga mau ibu sedih karena dede ga nemenin ibu..”

*    *    *

Sepanjang proses pemakanan, anak lelaki itu memperhatikan dengan seksama. Dan saat tanah diurug ke liang lahat ayahnya, dia melambai dan berkata, “Dede ga nangis, Yah ! Dede ga sedih, dede janji mau nemenin ibu sampe gede, mau jadi orang baik kaya ayah. Biar nanti dede bisa ikut ayah ke surga.. dadah Ayaah.. “

*    *    *

Author:

dreamer. strange. different.

4 thoughts on “Sampai jumpa ayah !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s