Posted in just a story, kata berima

Dibunuh Imaji

 

 

 

 

 

Lagu itu mengalun melawan hening, tiba-tiba memecah damainya tidurmu. Meragu, bertanya-tanya, darimana asalnya bunyi itu, kau berpikir. Lagu itu sukses menjadi prolog pembuka lukamu. Kau mulai teringat, itu hari ini..

Ah, kenapa hari ini datang lagi, membuatku harus mengingat lagi, melukai hati lagi, menangisi lagi, kau mengeluh, keluhan yg sama, seperti melenguh.

Kau membuka mata, menatap pada kegelapan, lalu mendengar sayup alunan lagu itu. Meresapi tiap nadanya, merasakan naik turun emosimu seiringnya, mencoba meredam sakitnya. Perlahan sesak itu datang, kesepian itu makin menjadi.

Itu khilaf, kau berkata pada dirimu sendiri.

Tiba-tiba sosok itu hadir, duduk menatapmu dari sudut tempat tidurmu. Kau kembali memaki mimpi, selalu saja pandai membawa yang mati kembali, membuat sepi serasa abadi.

Mimpi ini lagi, katamu dalam hati.

Sosok itu tersenyum, menatap dengan dua mata sebening danau kaca, tatapan yang selalu kau tunggu. Senyumnya mengembang di pipi. Seketika kegelapan memudar, dia terlalu terang untuk mengalah pada suram. Kau menatapnya, terduduk di ujung tempat tidurmu, meragu.

Ah mimpi ini terlalu nyata, kau mau apa, kau bertanya padanya.

Dia bergeming, menjulurkan tangan dan menunjukmu, kau yang mau apa.

Kenapa mimpi kali ini berbeda, atau ini nyata ? Bukan imaji dari hasil tangismu semalam yang membawa fatamorgana karena rindu. Garam air mata mungkin terlalu memburamkan pandanganmu.

Ini mimpi, kau kembali meyakinkan diri.

Buat apa kau terus begini, tegakah kamu, itukah cinta bagimu, dia bertanya padamu.

* * *

Kau tersentak bangun, membuyarkan mimpimu ( atau pikiranmu ? ). Enggan kau mulai berpikir, berat karena penat.

Haruskah aku sudahi semua ini hari ini ? Kau bertanya setengan menuntut pada dirimu sendiri.

Langit-langit kamarmu terasa jauh, gelap malam di luar terlalu pekat, detak jam dinding mengoyak sunyi, sepi semakin mengisi. Indramu mulai bekerja dan merasa. Kau turun dari tempat tidur, perlahan kau nyalakan pemutar lagu di atas meja, lagu itu mulai mengalun. Nyata, membuka luka seketika. Nadanya mengantarmu mengulang mengingat ingatan 5 tahun lalu. Di sini, di kamar inim dengan alunan lagu ini. Teriakan kalian memecah damai malam, amarah bersahutan, bahasa sudah berubah, kata menjadi menyakitkan. Air mata mengalir deras, terlalu deras di mata kecilmu. Lagu itu menjadi saksi saat kau menjadi penikmat sepi. Saat dia menuju mati yang abadi. Saat egoisme mengalahkan cinta. Saat setan mengantar khilaf dan membuatmu membantu malaikat pencabut nyawa melakukan tugasnya. Cemburu yang memburu berhasil memburu nafsu membunuh. Seperti binatang, seperti penjagal, seperti psikopat. Akal sehatmu hilang, melayang meninggalkan sesal. Begitu tersadar, dia sudah terbujur, diam tak bergeming, membiru dengan banyak warna merah darah, tergaris luka di sekujur tubuhnya yang tak lagi pantas disebut utuh. Kau diam menatap mahakarya kekejianmu, lalu menangis menjadi-jadi.

Lau apa, aku mau apa, kau bertanya pada dirimu sendiri.

Sudah terlambat untuk mengulang menguasai amarah, tapi belum terlambat untuk menyelamatkan hidupmu. Dalam sekejap egoismemu berhasil menyusun cerita fiksi kehidupanmu, lengkap dengan imaji dirimu. Kau ucapkan selamat tinggal padanya dari atas lubang yang tak pantas disebut liang kubur. Menyebar skenario serupa cerita nyata pada semua orang bahwa dia sudah sukses pergi ke negeri orang dan entah kapan akan kembali. Seakan mencuci otak semua orang, kau memaparkan kebohongan, menutup realita, lalu membuang kata cinta seiring perginya dia yang sudah meminangmu 10 tahun yang lalu. Semua sirna.. dan hidupmu seperti hanya imaji, dengan sepi mengisi seluruh hati seakan sampai mati. Hatimu sudah lupa, melupa bahagia karena cinta.

Kau beranjak dari kamar, menuju kebun belakang. Memandang kegelapan nyata, mengingat malam itu apakah dinginnya serupa malam ini.

Mau apa aku, kau bertanya pada dirimu sendiri. 5 tahun menumpuk lara, melupa bahagia, merasa benar dan kau menyebutnya memang seharusnya ! Benarkah ? Lebih dari seribu enam ratus malam dan kau selalu menanyakan hal serupa, benarkah ini seharusnya ? Sampai kapan ?

Tuhan akan memafkan hambaNya yang mengaku dosa, tapi dunia tak mudah menerima pengakuan seseorang. Manusia tak akan pernah menjadi Maha Pemaaf seperti Tuhannya. Dan itu yang kau takutkan, dunia. Kau terlalu takut disalahkan dunia, dicemooh lalu dibuang seakan kau tak pernah ada. Tapi kau terlalu lelah memimpikan hal yang sama disetiap tidurmu, terlalu lelah menumpuk sesal dan menangis menyambut pagi. Terlalu lelah menjadi pengumpul dosa di mata Tuhan.

Kau membuka luka itu lebar-lebar, menerima nyata bahwa itu bukan semata khilaf. Kau menatap fana lubang yang kembali kau buat. Lubang yang sama, di tempat yang sama seperti malam itu. Kau terdiam, melihat suamimu yang sudah hilang tersisa tulang. Kau merindu, mengharu, menikmati sakitnya cinta, mengingat semua bahagia dulu. Kau biarkan air mata mengalir seraya mengenang. Kau merasa hidup, hatimu hidup.

Maaf… kau ucapkan kata yang kau simpan sejak malam 5 tahun yang lalu.

Dan menjelang pagi kau mengaku dosa pada Tuhan, menutup skenario dan menghadap takdir. Suaramu bergetar saat kau berkata aku telah membunuh suamiku 5 tahun yang lalu.

* * *

Pagi ini tak lagi hening, tak ada rutinitas menikmati sepi sambil mencaci mimpi sendiri. Mungkin nanti dunia akan mencaci dan menghujatmu seakan ingin menikammu seperti saat kau menikam jiwa laki-laki yang mencintaimu dan menjadi korban paranoiamu. Menghina sisi burukmu setelah mereka menelan mentah – mentah imajimu yang entah nyata entah palsu.

Yah.. manusia itu seperti itu. Aku terlalu lelah merasa mampu membuat takdir untuk diriku sendiri. Mencipta siapa diriku yang ternyata hanya imaji. Dan saat orang – orang tau hari ini bahwa aku tak mungkin menjadi Tuhan yang Maha Kuat, mereka akan meludahiku. Hari ini, biarkan aku masih menjadi Tuhan untuk diriku sendiri, yang merasa membuat takdir untuk diriku sendiri.. kau berkata panjang lebar pada dirimu sendiri.

Lalu kau merasa damai, untuk pertama kalinya setelah lebih dari seribu enam ratus malam itu. Lega, kau tersenyum menangis setelah mengaku diri bahwa kau bersalah dan tak lebih dari imaji yang menutup kebodohanmu. Bersalah pada Tuhan, bersalah pada semua orang, bersalah pada dunia, bersalah pada dirimu sendiri.

Aku lelah ditipu diriku sendiri yang merasa benar, diyakinkan egoismeku sendiri bahwa aku hanya tersesat sejenak. Sudikah Tuhan memafkan aku yang merasa sombong sudah mampu menjadi sepertiNya, kau bertanya untuk terakhir kalinya.

Pagi ini semua berakhir. Berakhir saat kau menuliskan semua cerita nyata serupa fiksi dalam selembar kertas ternoda darah. Terpapar semua yang kau jaga sebagai rahasia selama 5 tahun ini, beruntut, berkisah.

Semoga kita berjumpa tak lama lagi, aku ingin menjawab pertanyaanmu sayang. Aku sudah tau aku mau apa, kau berkata pada setumpuk tulang belulang di dasar lubang.

Merah, segar, darah itu mengalir dari pergelangan tanganmu menuju jari – jarimu,menetes di tanah yang basah oleh embun pagi, bau anyir tercium diantara segarnya rumput. Kau tersenyum bahagia, tulus. Seakan kau bertemu inginmu.

Lalu kau pergi, mati seperti tidur terlelap bersama mimpi yang tak pernah bertemu pagi. Membawa seribu rahasia, seribu kebohongan, dan seribu penyesalan.

Author:

dreamer. strange. different.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s