Posted in just a story

Piala Kecil Untuk Ibuku

Kurapikan krayon warna -warniku. Sejenak kuamati gambar yang baru saja kubuat. Gambar yang telah berulang kali kubuat sejak beberapa hari yang lalu, kucoba mengganti warna di sana sini tiap kali kubuat yang baru. Tak terhitung berapa kali aku berlatih, mencoba agar gambarku lebih baik.
Kumasukkan krayon, spidol, pensil, penghapus dan alat gambar lainnya ke dalam tas ransel warna biruku. Kucek satu – persatu. Aku tak ingin ada yang tertinggal esok hari
Ibuku hanya tersenyum melihatku, “Sudah.. sudah lengkap, tidurlah.. Daripada besok tak bisa bangun pagi.”
Bergegas aku menuju kamarku. Tak lama aku terlelap..

Esok paginya, aku bangun lebih pagi. Segera aku mandi, kupakai kaos merah muda dan celana hitam yang baru diberikan ibuku. Kusisir rapi rambutku.

“Sarapan dulu ya nak.. Biar gak lemas nanti di sana..”
Sepiring nasi hangat dan telur goreng sudah tersaji di meja makan. Aku pun melahapnya dengan semangat.
“Bu, nanti ibu ikut kan ? Aku baru pertama kali ikut lomba. Aku ingin ibu menemaniku.. Ya ??”, aku memohon pada ibuku.
Lama ibuku menjawab, “Ibu mau naik apa nak ? Kita tak punya mobil seperti orang – orang. Ibu juga tak cukup kuat untuk membonceng kamu dan temanmu naik vespa 30 kilometer jauhnya. Ibu tak berani, terlalu jauh. Lagipula siapa yang akan mengurus adikmu nanti ? Sudahlah, kamu diantar Mas Ahmad saja ya ? Lain kali saja ya nak.. kalau di dalam kota saja. Tak jauh – jauh.. ya ?”
Sedih aku mendengarnya. Tapi memang benar kataย  ibuku.
Pukul 8 pagi aku berangkat bersama seorang temanku, diantar sepupuku, menumpang mobil tetangga. Setengah jam kemudian aku sampai. Sungguh ramai. Anak – anak di sana sini, ditemani paka ibu mereka. Aku sedih.. Tak ada ibu atau bapakku yang menemaniku.

Lomba menggambar yang kutunggu – tunggu dimulai juga. Aku menggambar penuh semangat. Krayonku bertebaran di mana – mana, spidol berserakan. Aku tak peduli anak – anak lainnya menggambar dengan sangat bagus. Aku hanya ingin menggambar. Gambarku yang terbaik, untuk ibuku..

Tengah hari panitia mengumumkan bahwa tak lama lagi penjurian selesai. Beberapa anakย  yang kulihat gambarnya sungguh bagus tampak percaya diri. Apalagi mereka yang kutau sudah menang di sana – sini. Mereka tersenyum menampakkan giginya, berbinar – binar matanya, berkata pada bapak ibunya, “Aku pasti menang kan bu.. pak ?”
Serta merta orang tuanya tersenyum bangga melihat anaknya. Nyaliku ciut. Aku tak seyakin mereka. Tak ditemani bapak ibuku. Tak merasa gambarku lebih baik dari mereka. Ingin menangis aku rasanya. Aku ingin pulang saja. Di rumah, menonton kartun kesayanganku. Bukannya di sini dan ingin menangis..

Tak lama panitia menyebutkan satu persatu nama pemenang. Harapan 3, 2 atau 1. Tak ada namaku disebut.
“Sudahlah, kita pulang saja mas. Mana mungkin ada namaku disebut di nomor 3, 2 apalagi 1 ?”, aku merengek minta pulang.
Tiba – tiba kudengar nama yang tak asing disebut, “Syaifiena Wijayanti.. kelas 5 dari SD Mangkujayan 1 Ponorogo..”
Aku tertegun.. terdiam.. tak yakin aku mendengar namaku disebut.
“Mana adik Syaifiena ? Ayo naik sini.. dapat juara 2..”
Aku berlari ke podium, tertawa, tersenyum, mukaku merah, malu…

Tak hilang rasa bahagiaku selama perjalanan pulang di bus. Kubaca berulang kali plakat di piala kecil pertamaku “Juara 2 Lomba Menggambar Dalam Rangka Hari Pahlawan se-Karisidenan Madiun”. Temanku juga tampak senang bukan kepalang. Bagaimana tidak, dia membawa pulang piala untuk Juara 1. Kami ingin segera pulang. Aku ingin segera pulang. Menunjukkan piala pertamaku pada ibuku..
Kulihat di kejauhan, ibuku duduk di depan teras rumah. Cemas menanti anaknya pulang. Ketika aku mendekat, ibuku tampak lega. Kutunjukkan piala pertamaku, “Bu, aku juara 2.. dapat piala !”
“Iya nak.. ibu tau kamu pasti menang. Ibu mendoakanmu di sini sekalipun ibu tak ada disampingmu tadi”, ibuku terharu.
“Berfotolah bersama bapakmu, ajak temanmu. Cepat.. tak apa, tak usah ganti baju. Bawa piala dan bingkisanmu. Segeralah kalian ke studio foto !”, ibuku berkata.
“Ibu tak ikut ?”, aku mengharap. Aku ingin berfoto bersama ibuku.
Menyesal ibuku berkata, “Tak usah nak, ibu di rumah saja. Lagipula siapa yang akan mengurus adikmu nanti ?”

Esoknya, piala kecil itu bertengger di meja sudut ruang tamuku. Ibuku bangga, bercerita pada tetangga. Wajahnya bahagia.. Tak akan pernah kulupakan.
Sejak hari itu, kuberikan piala lomba menggambar yang lain. Hingga berjajar di rak lemari piala. Untuk ibuku..

Walau sekarang aku tak bisa melihat wajah bahagia ibuku di Surga, aku ingin apapun yang kulakukan akan membanggakan ibuku. Aku akan jadi yang terbaik, aku berjanji. Aku akan berusaha. Aku akan selalu membanggakanmu seperti saat aku berumur 11 tahun itu.

Author:

dreamer. strange. different.

One thought on “Piala Kecil Untuk Ibuku

  1. disetiap tarikan nafas seorang ibu, ada sebersit doa yang terbaik untuk anaknya…. Allahummaghfirli waliwa lidayya war hamhuma kam rabbayani shaghira…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s