Sisi Selatan

..stop your fire
stop the bomb down
let me breath in peace
cause, because this is our land..

              Beberapa deretan kata diatas adalah bagian dari lirik lagu berjudul Message from Gaza. Sebuah lagu dari sebuah band indie beraliran groove-metal ini mengangkat tema tentang perang saudara yang tak kunjung berakhir di Gaza. Jeritan tangis, ketakutan dan kutukan untuk perang tak berkesudahan yang tak pernah didengar dari rakyat Palestina menjadi inspirasi bagi mereka untuk membuat lagu ini. Sebuah harapan dari mereka agar perang tersebut segera berakhir. Perang yang mengisi jiwa anak-anak yang kehilangan orang tuanya dengan trauma yang akan mengakar di hati mereka.

Band bernama Sisi Selatan ini berasal dari sebuah kota kecil di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, Wonogiri. Nama Sisi Selatan diambil karena mereka berasal dari daerah selatan dari Jawa Tengah. Mereka ingin agar kota kecil mereka lebih dikenal masyarakat.  Dari segi filosofi, nama Sisi Selatan mereka ambil dari filosfi bahwa selatan adalah sisi dimana berkecamuk rasa murka dan jahat dalam diri anusia. Sisi selatan yang menurut mereka juga identik dengan arah bawah dalam gambar 2 dimensi mata angin menggambarkan rasa tunduk akan Sang Pencipta. La dalam kata Selatan mereka artikan sebagai tidak ( dalam bahasa Arab ). Secara keseluruhan, mereka berkonsep bahwa Sisi Selatan berarti sisi dimana kita tertunduk tapi bukan untuk setan.

Band yang terbentuk atas ide dari Kuncoro ( guitar ), Rizal ( Bass ), Adit ( drum ) dan Ronald ( Vocal ) ini terbentuk pada tahun 2008, yang beberapa bulan kemudian menambahkan Adi untuk melengkapi personel mereka ( guitar ).

Sejak tahun 2008 hingga kini, sekitar 70 gigs sudah ada dalam daftar list pentas mereka. Beberapa kali mereka menjadi band pembuka / opening act untuk band – band Metal seperti Dying Vetus ( Rock in Solo, 2010 ) dan Burgerkill ( Surya12, 2010 ). Mereka juga tergabung dalam band Treakk Tour tahun 2009 dan 2010, sebuah event berisikan band-band indie yang mengadakan rangkaian konser tour di wilayah karisidenan Surakarta ( Solo, Sragen, Karanganyar, Boyolali, Sukoharjo, Wonogiri ).

Awalnya mereka mengcover lagu-lagu dari Lamb of God, As I Lay Dying, dan band metal lainnya. Bosan dengan lagu orang, mereka mulai membuat beberapa single yang aransemennya terinfluence oleh Lamb of God, Dream Theatre dan Job For A Cowboy. Tapi tak seperti kebanyakan band metal atau hardcore, mereka memilih tema politik atau sosial untuk mengisi lirik lagu mereka. Seperti lagu Message from Gaza, lagu ini mengangkat tema sosial dari penderitaan rakyat Palestina sebagai korban perang karena keegoisan pihak yang tak punya belas kasihan.

Lagu lain seperti 34:1 ( bayang hitam ), mengangkat tema hukum di Indonesia. Judul lagu ini diambil dari pasal 34 ayat 1, yang menjelaskan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Tapi seperti yang kita lihat, pasal ini hanya sebatas tertulis dalam daftar pasal negara tanpa realisasi pasti bahkan hampir terlupa, tanpa bukti. Lagu ini menceritakan tentang dendam seorang anak yang homeless dan menjadi anak terlantar. Dia merasa negara tak peduli padanya dan menyadari bahwa ternyata jiwa anak terlantar adalah sesuatu yang tak begitu berharga dan tak berarti bagi negara. Dan mungkin pasal 34:1 lebih pantas dengan isi yang menyatakan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar diasingkan oleh negara.

Lagu berjudul Aku Dipaksa Mati juga menyindir masalah adanya hukuman mati di Indonesia yang masih menjadi bahan rapat dan diskusi di meja petinggi negara. Hukuman ini dinilai melanggar hak asasi manusia. Mungkin bagi negara yang menggunakan hukum Islam, hukuman mati akan mudah diterima. Tapi mungkin akan tidak semudah itu di negara multikultural semacam Indonesia. Lagu ini menceritakan tentang seseorang yang merasa dipaksa mati oleh manusia karena dia mendapat hukuman mati, seperti dalam liriknya yang berbunyi “aku dipaksa mati, mereka bukan Tuhan..”.

Sebuah lagu lain lagi berjudul Premature System juga menyindir segala sistem yang dipaksakan untuk diterima. Yang mereka maksud di sini adalah segala sistem negara kita yang dari dulu bersifat prematur. Menurut mereka, hampir segala sistem di Indonesia dibuat dengan memaksakan kehendak dan paksaan. Alhasil, beberapa sistem akan mandeg di tengah jalan, tanpa kejelasan tapi justru dengan kemubadziran. Beberapa sistem tak benar – benar matang, dibuat tergesa seperti asal kejar setoran. Tak signifikan bahkan terkesan memaksa. Mungkin karena dari sistimnya sendiri sudah tak baik, sistem yang terbentuk pun akan menajdi seperti ini. Bagi mereka, sadar atau tidak memang inilah yang terjadi di negara Indonesia.

Memang beberapa lagu mereka juga mengangkat tema percintaan seperti lagu Late Apologize atau pengkhianatan dalam lagu berjudul Pengkhianat. Tapi mereka cenderung memilih tema sosial dan politik sebagai inspirasi mereka.

Saat ini, Sisi Selatan tengah sibuk take untuk persiapan album mereka. Sekitar 11 lagu sudah ada dalam list mereka. Untuk proyek lagu – lagu berikutnya, mereka akan lebih memilih tema sosial yang cenderung lebih universal daripada politik yang kata mereka bullshit. Saatnya ditanya apakah tak ingin mengusung tema cinta atau sesuatu yg sadis, salah seorang personel menjawab, “Cinta – cintaan biar boyband atau afgan aja yg nyanyi. Ntar saya ngrebut rejeki orang hahaha. Karena pembelajaran hidup selalu bisa membuat orang mau belajar berdiri ketika jatuh. Dan berlari daripada berjalan.”


One thought on “Sisi Selatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s