Posted in just write

Tentang Sebuah Film Berjudul Tanda Tanya ( ? )


Beberapa minggu terakhir, sebuah film karya Hanung Bramantyo menjadi banyak dibicarakan. Ada yang bilang ini film bermutu, tak berisi adegan saru seperti film biru berkedok komedi yg mencoba melucu atau film hantu yang pemainnya seperti tak memakai baju. Tapi ada yang menghina, mencerca, bahwa ini film tak berguna apalagi untuk generasi muda. Sebuah karya yg menyesatkan persepsi orang tentang perbedaan agama. Menegaskan bahwa memang sara masih sangat tabu di Indonesia.Yang jelas, film ini kontroversial sekali. Baik pemilihan temanya maupun adegan-adegannya.

Beberapa adegan seperti tertusuknya pendeta, kerusuhan dari sekelompok muslim kepada keluarga tionghoa, seorang muslim yg memerankan peran sebagai Yesus, memunculkan pihak yg pro dan kontra. Yg pro mengatakan bahwa film ini mendidik, banyak pesan moral dan memaparkan apa yg memang sebenarnya terjadi di indonesia dan bagaimana seharusnya kita menghargai multikulturalisme. Pihak yg kontra menuntut bahwa film ini harus ditarik dari peredaran karena akan merusak persepsi orang awam tentang perbedaan keyakinan tiap umat beragama.

Hmm.. saya jadi berpikir, ada apa dengan film ini ??
Bukan rahasia lg bahwa kadang uang bermain bersama strategi untuk mengangkat sebuah film dengan membuat isu-isu. Siapa yang tak mau uang saat semua berada dalam jangkauan yg tak mudah ? Yah kita sebagai orang awam tak tau apa-apa dibalik semua proses pembuatan sebuah film..

Beberapa hari yg lalu akhirnya saya memutuskan untuk menyempatkan diri menonton film ini. Bukan karena termakan strategi pemasaran tentunya. Tapi saya ingin tau, seberapa kontroversial apa film ini ? Menyesatkankah ? Atau memang komentar-komentar yg sudah muncul hanya datang karena mereka kurang menghargai multikulturalisme di indonesia ?
Setelah menghabiskan sekitar 105 menit menikmati film ini, saya berpendapat, “kata siapa film ini menyinggung sara bahkan menyesatkan ?? hahaha”

Saya mengamati film ini tak hanya dari sudut pandang ceritanya saja. Dari sisi estetika, DOP film ini pintar sekali memilih framing. Mata saya cukup dimanjakan dengan framing yg apik. Begitu juga pemilihan tonenya, sangat mendukung pemilihan setting film ini, sebuah kawasan kota tua di semarang. Lengkap dengan semua properti untuk mendukungnya. Dari segi dialog, beberapa kalimat yg dipilih juga bagus, tak retoris. Tak sekedar membuat dialog apalagi dialog yg mengajak menuju sesat, bahkan memberi pesan moral yg baik.

Beberapa thread yg saya baca tidak terima dengan seorang tokoh yg memilih untuk murtad dan berpindah agama menjadi katolik. Mereka menyumpah serapah adanya tokoh yg berpikiran seperti ini. Tapi tidakkah mereka melihat bahwa ada pula seorang tokoh tionghoa yg memilih untuk masuk islam. Lalu inikah yg mereka maksud menyesatkan ?

Beberapa statement membuat saya berpikir seperti statement, β€œβ€¦semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju kea rah yang sama, mencari satu hal yang sama, dengan satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan.”
Kita lahir dengan hak untuk memilih agama apa yg kita anut. Bahkan di film ini ditunjukkan seorang ibu yg memilih menjadi Katolik tapi tak sedikitpun dia memaksa anaknya untuk keluar dari Islam. Bahkan dia tetap mengajari anaknya doa sehari-hari dan mengadakan syukuran khataman bagi anaknya. Sanag anak, sekalipun ia masuk duduk di bangku SD menghargai hak ibunya. Ia tak peduli apa agama ibunya, ia hanya ingin ibunya menjadi orang baik baginya, bagi Tuhannya dan bagi dirinya sendiri. Lalu inikah yg mereka maksud menyesatkan ?

Sebuah statement lain datang dari seorang pendeta, “pantaskah iman kita rusak hanya karena adegan drama ?”
Saya tergelitik mendengar statement ini. Mungkin sang sutradara memang ingin mengingatkan ini kepada para penonton karyanya. Karya film ini hanya memaparkan pesan moral dan kenyataan yg tak perlu ditutupi lagi. Karya ini tak menawarkan aliran tertentu bahkan mengajak penontonnya untuk pindah agama. Film tak mesti menyampaikan pesannya secara harfiah melalui gambarnya bukan ? Sebatas itukah pemikiran penonton yg berpikir bahwa karya ini menyesatkan ?

Sayangnya masih banyak masyarakat awam yg kontra, bahkan mencaci bahwa sang sutradara adalah mayat hidup. Sebuah film hendaknya tak hanya ditilik dari sudut pandang cerita atau temanya saja. Tapi dari semua unsurnya. Dan jangan mengatakan sebuah film itu jelek atau bagus hanya karena sepenggal adegan yg dilihat dari satu sudut pandang saja.

Dari film ini saya melihat memang beginilah indonesia dengan multikulturalnya. Mau tak mau kita harus menerima. Kalaupun kadang antar agama itu tak akur, kita semua sudah tau. Tak perlu malu mengakui bahwa itu memang benar, bahwa cerita dalam film ini ada benarnya dalam kenyataan. Kita berbeda, dan untuk itulah kita belajar memahami dan menghargai. Film ini mungkin terlalu kontroversial, tetapi itu hanya untuk orang-orang yg belum menghargai multikulturalisme di indonesia. Mari berpikir lebih kritis dan terbuka. Mari menjadi filter untuk logika dan iman kita sendiri, untuk apapun itu. .

Author:

dreamer. strange. different.

2 thoughts on “Tentang Sebuah Film Berjudul Tanda Tanya ( ? )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s