Posted in just write

Mengamati Surabaya ( part 2 – the mall town )

Kalo di Yogyakarta, mall yang saya temui ya itu – itu saja. Tapi memang kota sesederhana Yogyakarta tak butuh mall, kota ini lebih menawarkan budaya dan seninya sebagai objek wisata, dan memang itu yang istimewa dari Yogyakarta. Tapi lain halnya dengan Surabaya, mall baru terus bermunculan satu-persatu. Jalan lewat sini ada mall, jalan lewat sana ada mall. Bahkan sebuah kawasan real estate punya mall-nya sendiri. Dan ini yang membuat saya berpikir, mungkin wisata di Surabaya hanyalah sebatas wisata belanja dalam gedung tinggi dan besar bernama mall…

 

Jumlah mall di Surabaya hampir tak terhitung. Setiap muncul mall baru, maka ruang hijau akan berkurang dan gedung tinggi bertambah. Membuat image Surabaya sebagai salah satu Jungle of  Highrise Building semakin kuat. Tetapi orang – orang justru bergembira lalu ingin mengunjunginya. Padahal saya pikir, tak ada yang unik dari tiap mall di Surabaya. Gedung tinggi megah, luas, mahal, butuh daya listrik yang super banyak, tempat orang buang uang atau sekedar bersenang-senang. Di dalamnya, ya cuma itu-itu aja. Retail fashion, tempat belanja kebutuhan rumah tangga, tempat makan, tempat nongkrong ( yang minuman secangkir bisa seharga 25ribu haha ), department store ( yang saya yakin salah satu departmen store ternama hampir ada di setiap mall di Surabaya ), tempat nonton, tempat main game yang pake koin atau pake kartu, toko buku, ya gitu – gitu aja lah. Walaupun mall di Surabaya gitu – gitu aja, mall di Surabaya tak pernah sepi pengunjung. Dari anak kuliahan, anak sekolahan, orang kantoran, anak baru lulus SD yang pengen ngerasa jd ABG, sampe nenek – nenek yang nekat pake kursi roda, semua ada di mall.

 

Setelah saya amati, ternyata mall yang ada di Surabaya bisa dibedakan berdasarkan pengunjungnya. Pengunjungnya ini memilih berdasarkan seperti apa mallnya dan harga barang – brang yang dijual di mallnya. Orang -orang super kaya ( yang kebanyakan didominasi chinese ) tentu tak mau memilih mall dengan kelas menengah atau menengah kebawah. Dan orang – orang yang berkecukupan juga akan memilih mall dengan kelas menengah atau kelas menengah ke bawah, daripada gigit jari ngeliat harga atau malu kalah ‘bening’ sama pengunjung di mall orang kaya haha.

 

Sebut saja seperti mall Galaxy, mall ini termasuk highclass. Tas seharga 1 juta atau 2 juta sangat lumrah di sini, itupun kadang sudah diskon. Pengunjungnya kebanyakan chinese, baju minim plus hotpants, kulit putih mulus, rambut lurus, full make up, high heel 10 cm, pada bawa hp terbaru dan termahal, naik mobil mewah lagi. Kalo merasa pas-pasan, mending ga usah ke mall yang seperti ini hahaha.

Beda lagi dengan mall seperti Royal atau Delta, mall ini termasuk kelas menengah. Harga barangnya masih masuk akal dan wajar. Pengunjungnya campuran orang chinese dan orang Jawa, dandannya juga masih wajar. Naik motor juga ga bakal minder. Kalo merasa di tengah – tengah, cari aman aja ke mall seperti ini.

Ada lagi mall seperti DTC, mall ini terhitung kelas menengah ke bawah. Kalo ke sini, ngerasa seperti ke Bringharjo bagian depan, tapi bedanya bangunannya tinggi bertingkat. Tapi mall ini tak segemerlap mall yang lain, ya mungkin karena mall ini semacam gabungan pasar menjadi semacam mall. Harga barang di sini murah, bahkan bisa ditawar. Pengunjungnya, jangan kaget kalo melihat mbak-mbak dengan dandanan menor dan baju tabrakan atau baju buka-bukaan tapi sedikit memaksa haha. Kalo mau cari barang dengan harga murah tapi kualitas sesuai keberuntungan, silahkan ke mall seperti ini.

 

Selama 1 bulan ini, baru 3 kali saya jalan-jalan ke mall, itupun karena saya dipaksa menemani. Dan 2 kali saya diajak makan ke mall, satu kali karena ditraktir dan satu kali karena diajak makan siang bersama teman – teman kantor yang itupun saya makan bekal yang saya bawa dari rumah hahaha. Saya bukan seorang mallholic, dan jika saya ditanya mau jalan ke mana untuk menghabiskan akhir pekan, saya tak akan menjawab mall. Saya juga tak akan menjawab jalan – jalan aja. Sejauh ini, saya merasa bahwa stay at home adalah cara menghabiskan akhir pekan yang paling enak di Surabaya agar saya benar – benar bisa beristirahat.

 

*suatu waktu di Surabaya saya mendengar seseorang berkata “ayo nang Jogja, ah tapi paling rono cuma blonjo yo” – saya hanya tersenyum mendengarnya, tampaknya kegiatan belanja sudah mendarah daging di Surabaya, bahkan saat ke kota lainpun yang mereka lihat dan pikirkan hanya belanja dan belanja. Tapi maaf, Yogyakarta hanya punya pasar dan pedagang di trotoar Malioboro yang tak semewah mall Surabaya. Tapi silahkan mencoba sensasi belanja mall pinggir jalan ala Malioboro atau pasar Bringharjo, dijamin tak kalah dengan mall super mewah di Surabaya…

Author:

dreamer. strange. different.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s