Posted in just write

Mengamati Surabaya ( part 1 – @ the street )

Besar di kota kecil yang tak ramai, lalu pindah ke kota sesantai Yogyakarta membuat saya tak perlu menyesuaikan diri untuk mengikuti perilaku segala sesuatu yang ada di Yogyakarta. Pola hidup yang tak jauh berbeda, tak terburu tapi tetap menghargai waktu, cuaca yang kurang lebih sama, orang – orang yang punya pemikiran dan kebiasaan semacam. Saya sangat menikmati. Tapi kemudian saya harus pindah ke kota yang kata orang, pemikiran orang – orangnya keras, ditambah cuaca yang panas, segalanya yang serba terburu dan disibukkan oleh pekerjaan, dan banyak lagi, yang jelas jauh dengan kota yang pernah saya singgahi sebelum – sebelumnya. Dan mulailah saya mengamati kota ini, Surabaya…

 

Di Yogyakarta, saya tak pernah bermasalah dengan macet. Dan kemudian saya harus menyesuaikan dengan Surabaya yang juga terkenal dengan kemacetannya. Berangkat terlalu siang sedikit saja, saya akan banyak bertemu orang – orang yang sangat terburu – buru di jalan. Polisi bukan ancaman, apalagi sekedar marka jalan atau lampu lalu lintas. Jalan dua arah bisa jadi satu arah karena setiap pengendara motor ingin saling mendahului. Lampu lalu lintas tak lagi jadi penanda bahwa saatnya untuk berhenti atau berjalan. Keadaan di jalan yang jadi penanda. Saat persimpangan jalan cukup sepi, sekalipun lampu lalu lintas masih merah, sekelompok pengendara motor akan menerobos lampu merah sama – sama. Dan herannya, polisis tak bertindak apapun. Apakah ini sudah jadi kebiasaan dan kemudian dimaklumi ??

 

Saat lampu lintas menyala merah, seharusnya pengendara bermotor berhenti di belakang garis putih yang biasanya tergambar melintang di jalan. Di Yogyakarta, semua pengendara akan berhenti di belakang garis lurus ini dengan teratur. Tetapi di Surabaya, mereka tak hanya sekedar melampaui. Tetapi mereka mengambil batas terdekat dengan jalur yang digunakan pengendara lain di persimpangan. Mereka tak takut untuk berhenti di tengah perempatan, asalkan mereka bisa berada di urutan paling depan, agar bisa langsung melaju saat persimpangan sepi, bukan saat lampu berubah menyala hijau, hahaha. Pernah suatu saat, saya satu – satunya pengendara bermotor yang berhenti di belakang garis putih saat lampu menyala merah, dan akibatnya beberapa kendaraan di belakang saya membunyikan klakson. Saya heran, saya tidak merasa bersalah dan lampu belum menyala hijau. Ternyata saya kurang ‘maju’, seharusnya saya berhenti  di tengah perempatan seperti yang lain, hahaha

 

Dalam hal ‘menyusup’ di jalan, orang – orang Surabaya mungkin ahlinya. Mereka tak menyia-nyiakan sama sekali celah yang ada di jalan demi mereka bisa terburu – buru. Dan beberapa kali saya melihat kecelakaan di jalan yang mungkin disebabkan karena kebiasaan di jalan yang tak baik ini. Saya heran, kenapa mereka begitu menghargai waktu, sedangkan mereka tidak menghargai keselamatan mereka ??

 

Jalanan Surabaya memang sangat keras, jika ditinjau dari saya yang notabene sebelumnya berkendara di kota yang tak banyak kendaraan bermotor lalu pindah ke kota yang santai dan tak terburu – buru. Bunyi klakson beradu, kecepatan dipacu dan celah diburu, asal mereka tak kalah dengan waktu. Saya tak ingin mengorbankan keselamatan saya seperti itu. Jadi, saya memilih bangun lebih pagi, berangkat lebih awal, mengendarai motor saya dengan kecepatan normal, memilih lajur kiri, dan tak lupa memasang headset di telinga hingga tak terdengar suara klakson yang tak sabar seperti pengendaranya.

Author:

dreamer. strange. different.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s