Posted in just a story

memikirkan hidup…

Aku merasa kehilangan hidupku sendiri. Aku lupa kapan aku benar – benar menikmati hidupku. Semua seakan hilang karena keputusanku sendiri. Entah itu benar – benar keputusanku atau keputusan ayahku, aku tak bisa membedakannya.

3/8 hariku kuhabiskan di balik meja kerja. Aku tau ini cita – citaku untuk jadi seorang arsitek, dan aku tinggal setengah langkah menuju ke sana. Orang bilang, “enak banget hidupmu, IP oke, baru lulus langsung dapat kerja di developer oke”. Tapi kemudian aku tak pernah menikmati 1 jam pun dari 9 jam jam kerjaku. Entah kenapa..

Malam hari aku sudah lelah. Banyak niatku untuk berkarya, tapi fisikku tak mampu. Aku terlalu lelah. 4 jam aku memaksakan diri, tapi aku tak pernah berhasil. Padahal berkarya adalah satu – satunya cara untukku refreshing. Jam berikutnya hingga pagi aku akan tertidur. Itupun aku akan benar – benar menikmati tidurku jika aku tak tiba – tiba terjaga saat larut malam karena suara televisi yang kencang dari nenekku yang ingin menghibur dirinya sejak 2 tahun ditinggal mati suaminya. Aku tak tega menyalahkannya.

Paginya, aku langsung bersiap untuk kembali bekerja. Aku harus bangun lebih pagi agar aku bisa berangkat lebih pagi. Aku tak ingin bertarung dalam macet. Lalu aku akan kembali bekerja hingga senja.. Akhir pekan, aku tak begitu suka bepergian. Jalanan di kota metropolis hanya membuatku lelah. Aku menikmati hariku untuk berkarya, aku beristirahat di rumah seharian..

 

Inikah hidup yang aku inginkan ? Hidup yang kata orang lurus sekali, beruntung sekali ? Atau memang begini hidup orang dewasa yang bervisi misi, yang bertujuan ? Tapi bahkan aku tak benar – benar tau apa tujuanku saat ini. Aku hanya menjalani saja. Tapi bukankah nanti ada kalanya aku akan menemukan tujuanku sendiri ? Tapi kapan ? Yah.. mungkin aku hanya ingin menikmati hidupku lagi. Melakukan apa yang benar – benar aku inginkan. Dan bukan ini yang aku inginkan, ini semua terlalu dipaksakan. Setiap jam seakan bukan ikhlas kehendakku. Malam ini, 24 hari sejak aku bekerja, aku menangis.. Aku tak ingin seperti ini, aku tak mau hidup seperti ini. Aku ingin menikmati hidupku seperti dulu…

 

Saat aku lelah menangis dan hampir terlelap, kudengar suara radio kakek buyutku. Sebuah paparan filosofi urutan fase kehidupan dalam tembang jawa dari sejak manusia terlahir hingga saat manusia bertemu mati. Aku lalu berpikir, mungkin ini memang salah satu fase hidupku sebelum aku menuju fase tembang wirangrong – yaitu kematian. Lalu aku tau apa yang kucari…

Tak peduli aku menikmati hidupku atau tidak, aku akan mencari bekal menuju akhirat. Amal ibadah. Bukankah kita semua ingin masuk surga ? Bukankah itu tujuan dari semua hidup kita yang singkat ? Aku ingin melakukan yang terbaik dalam hidupku, membanggakan orang tuaku, menjadi orang baik, belajar dari hidup lebih banyak lagi..

 

Ternyata aku hanya perlu berpikir lebih jauh.. dan lebih bersyukur..

 

Hari ke 25 aku bekerja, aku mulai menikmati semua. 9 jam bukan lagi waktu yang kupaksakan, aku mulai larut dalam semua. Tak selamanya hidupku akan tanpa bersusah payah dan sangat sesuka hatiku. Nanti semua pasti akan terbayar, aku yakin itu. Semua akan menyenangkan jika aku lebih bersyukur. Bahagia akan datang pada waktunya…

Author:

dreamer. strange. different.

One thought on “memikirkan hidup…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s