Posted in just a story

anak kecil setengah dewasa ( part 1 )

Dia hanya soerang anak laki-laki kecil berusia tak genap 10 tahun ketika ibunya pergi meninggalkannya. Membuatnya harus hidup
berdua hanya dengan sang bapak di rumah kecil seadanya. Semua cerita hidupnya membuat dia harus berpikir layaknya orang dewasa
dalam waktu yang lebih cepat. Tak cukup di situ, dia harus menerima menjadi saksi kebejatan sang bapak di mata sekian wanita. Dia tau
bapaknya bukan seorang lelaki yang baik, dia tau bapaknya bukan contoh yang baik baginya.

“aku tak ingin jadi seperti bapak..”

Sudah tak terhitung berapa kali dia melihat bapaknya membawa wanita ini atau itu ke rumah, tidur di kamar sang almarhumah Ibu.
Padahal belum genap 40 hari ibunya pergi menghadap Tuhan. Kala malam bapaknya terlelap, dia nanar melihat bapaknya,dan
menangis di bantal ibunya dulu. Dia iba, tetapi dia benci pada bapaknya. Dia tau dia cuma anak kecil yang masih harus tergantung
pada sang bapak. Tapi dia tau dia dibodohi sang bapak, seakan dia tak tau apa yang dilakukan bapaknya.

“biarlah, bapakku orang dewasa, dia pasti punya alasan”

Kadang dia menunggu sang bapak di depan rumahnya hingga dini hari. Bapaknya belum pulang, dan dia tak berani tidur sendiri. Dan
ketika sang bapak pulang, dia hanya mendapat amarah. Dan dia tak menangis sedikitpun.

“terima kasih Tuhan, bapakku pulang dengan selamat”

Kini 3 tahun setelahnya. Pikirannya tumbuh lebih dewasa dan memahami orang dewasa lebih baik daripada orang dewasa sekalipun.
Sang bapak sudah punya ibu baru, dan tetap punya selingkuhan lama. Dan dia tau itu.

“bapak orang dewasa, pasti dia punya pemikiran sendiri”

Si ibu baru hanya kerap jadi pelampiasan bapaknya kala si selingkuhan bapaknya tak mau memberi uang. Akhirnya, dia yang menjadi
sasaran pelampiasan kemarahan si ibu baru.

“orang dewasa itu punya pemikiran sendiri, aku tak peduli dengan dasar pemikiran mereka, tapi aku menghargai pemikiran
mereka.. biar saja. Tuhan lebih tau mengapa”

Dia sudah jadi anak kecil setengah dewasa dengan kesabaran dan pengertian melebihi orang dewasa. Kadang dia tertawa bersama
teman seusianya, menikmati permainan seadanya di depan halaman rumah kecilnya, berlari bebas layaknya anak kecil seusianya.
Kadang dia terlibat percakapan serius dengan batinnya sendiri tentang bagaimana pemikiran bapaknya atau ibu barunya. Amarah orang
dewasa bukan lagi hal asing atau memuakkan baginya. Dia sudah terbiasa dengan amarah orang dewasa di sekitarnya. Cerita hidupnya
sudah melatih kesabarannya dengan baik.

“aku nanti akan menjadi orang dewasa, dan aku sudah belajar dari mereka bagaimana menjadi orang dewasa. kau sudah
menunjukkan padaku Tuhan, terima kasih. semoga bapakku menjadi lebih baik, ibu baruku juga. aku ingin jadi orang dewasa yang
baik, agar bisa bertemu ibu di surga..”

Author:

dreamer. strange. different.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s